Al Maidah: 51 dari berbagai tafsir

“Tidak ada dan tidak akan pernah ada yang dapat menandingi Al Qur’an dalam menyelesaikan persoalan, serta tidak ada yang dapat menggantikan mukjizat terbesar ini sama sekali.”

[Tuntunan generasi muda, Badiuzzaman Said Nursi]

Sebelum kami uraikan tafsir Surah Al Maidah: 51 dari beragam kitab tafsir, alangkah patut sebagai seorang muslim kita mengetahui kewajiban terhadap Al Qur’an. Ada enam kewajiban kita terhadap Al Qur’an. Pertama, mengimaninya (al imanu bihi). Mengimani seluruh ayat dalam Al Qur’an sebanyak 6236 ayat. Menolak satu ayat saja sama dengan menolak seluruh ayat, karena iman itu satu kesatuan yang tidak boleh dibagi-bagi. Kedua, membacanya (tilawatuhu). Seorang muslim harus selalu menjaga interaksi dengan kitab sucinya dan tidak ada kata bosan. Membaca terbata-bata saja mendapat dua pahala. Ketiga, memahaminya (fahmuhu). Bisa jadi penguasaan kita terhadap bahasa arab kurang, maka dianjurkan melihat terjemahan. Terjemahan pun belum mencukupi, maka pelajari pula tafsirnya. Keempat, mengamalkannya (al ‘amalu bihi). Generasi pendahulu kita setelah memahami maksud ayat, maka segera, mengamalkannya. Kita memahami ayat agar kita dapat menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Kelima, mengajarkannya walaupun satu ayat. Hendaknya yang hadir di pengajian menyampaikan bagi yang tidak hadir, karena boleh jadi yang tidak hadir lebih paham daripada yang hadir. Keenam, membelanya. kapan kita membelanya? tatkala ada yang ingin memalsukannya, memanipulasi maknanya, apalagi jika ada yang menistakannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.s. Al Maidah: 51)

  1. Tafsir Ibnu Katsir:

Allah Tabaraka wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin mereka, karena mereka itu adalah musuh-musuh Islam dan musuh para pemeluknya, semoga Allah membinasakan mereka. Selanjutnya Allah Ta’ala memberitahukan bahwa sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian lainnya. Dan setelah itu Allah mengancam, dan menjanjikan siksaan bagi orang yang mengerjakan hal tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Iyadh: “Umar pernah menyuruh Abu Musa Al Asy’ari untuk melaporkan kepadanya pemasukan dan pengeluaran (yang dicatat) pada selembar kulit yang telah disamak. Pada waktu itu, Abu Musa Al Asy’ari mempunyai seorang skretaris beragama Nasrani. Kemudian sekretaris itu menghadap Umar untuk memberikan laporan. Umar sangat kagum seraya berujar: ‘Ia benar-benar orang yang sangat teliti. Apakah engkau bisa membacakan untuk kami di masjid, surat yang baru kami terima dari Syam?’ Maka Abu Musa Al Asy’ari mengatakan, bahwa ia tidak bisa. Maka Umar bertanya: ‘Apakah ia junub?’ Ia menjawab: Tidak, tetapi ia seorang Nasrani.’ Umar pun menghardikku dan memukul pahaku. Dia berkata: ‘Keluarkanlah orang itu.’ Lalu Umar membaca: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu) (sahabat karib).’ “

     2.  Tafsir Al Karim Al Mannan karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di:

Allah membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman manakala Dia menjelaskan keadaan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan sifat-sifat buruk mereka agar kaum Muslimin tidak mengangkat mereka sebagai pemimpin-pemimpin. Karena sebagian dari mereka adalah “wali bagi sebagian yang lain.” Mereka saling tolong menolong dan bahu-membahu menghadapi selain mereka. Maka janganlah kamu mengangkat mereka sebagai penolong-penolong, karena mereka adalah musuh yang sebenarnya, mereka tidak mempedulikan penderitaanmu bahkan mereka tidak menghemat energi sedikit pun demi menyesatkanmu. Maka tidak ada yang mengangkat mereka menjadi pemimpin-pemimpin kecuali orang yang sama dengan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” Karena pengangkatan mereka menjadi pemimpin secara total menuntut perpindahan kepada agama mereka, loyalitas yang sedikit akan mendorong kepada yang banyak, lalu fase demi fase sehingga seorang hamba menjadi satu dengan mereka. “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” yakni dengan kezaliman sebagai sifat, mereka kembali kepadanya dan berpijak kepadanya. Jika kamu hadir kepada mereka membawa semua bukti, niscaya mereka tidak mengikuti dan menaatimu.

          3. Tafsir Al Aisar karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi:

Diriwiyatkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah berkenaan dengan Ubadah bin Shamit Al Anshary dan Abdullah bin Ubay. Maing-masing mereka mempunyai mitra dari orang-orang Yahudi yang ada di Madinah. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperoleh kemenangan dalam perang Badar, maka semakin berkobar-lah kebencian dan api dendam di dalam hati orang-orang Yahudi terhadap orang-orang yang beriman, lalu mengumumkan secara terbuka permusuhannya terhadap mereka, hal ini membuat salah seorang dari mereka, yaitu Ubadah bin Shamit melepaskan diri dari teman-teman mereka dan dengan ikhlas menjadikan Allah, Rasul-Nya, serta orang-orang Islam sebagai pemimpin dan pelindungnya. Sedangkan Abdullah bin Ubay menolak mengikuti jejak Ubadah dan lebih memilih untuk tetap bergabung dengan kaum kafir dan berdiri di belakang mereka. Maka berkenaan dengan itu turunlah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu).” Yakni, melarang orang-orang beriman untuk menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin mereka. Selanjutnya Allah Ta’ala menyebutkan sebab dilarangnya hal itu, karena mereka merupakan pelindung bagi sebagian yang lain, maksudnya Yahudi itu adalah pelinfung bagi sebagian Yahudi yang lain, dan Nasrani itu adalah pelindung bagi sebagian Nasrani yang lain. Sehingga dengan alasan apa kamu menjadikan mereka sebagai pelindung dan pemimpin serta menaruh kepercayaan kepada mereka? Karena bagaimana mungkin mereka mementingkan kamu daripada saudara mereka sendiri? Atau menolong kamu dengan mengorbankan saudara mereka sendiri? Karena itulah Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang melakukan perbuatan seperti itu dengan firmannya,  “….Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin.” Artinya, wahai orang-orang beriman siapa saja di antara kalian yang melakukan hal sperti itu, maka dia sudah termasuk golongan mereka. “…maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” Karena dengan menjadikan mereka sebagai pemimpin, berarti sama saja dengan menabuh genderang perang melawan Allah, Rasul-Nya dan segenap kaum muslimin. Kemudian selanjutnya Allah Ta’ala kembali menegaskan komsekuensi dari perbuatan tersebut yaitu, “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Dengan ber-muwala’ kepada mereka akan menghalangi turunnya hidayah Allah, karena perbuatan itu adalah perbuatan zalim sedangkan Allah Ta’ala membenci orang-orang yang berbuat zalim. Maksudnya, bahwa secara tidak langsung mereka telah berbuat zalim dengan perbuatannya tersebut, yakni menjadikan pemimpin orang yang tidak sepantasnya dijadikan pemimpin, sebagaimana pengertian zalim itu sendiri yaitu menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, karena yang pantas untuk jadi pemimpin bagi kaum muslimin adalah Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin itu sendiri bukan musuh-musuh-Nya. Inilah kandungan dari ayat 51.

      4. Tafsir Al Muyassar:

Wahai orang-orang yang beriman, jangan mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin dan penguasa atas orang-orang beriman. Hal itu karena mereka tidak mencintai orang-orang mukmin. Orang-orang Yahudi, sebagian dari mereka bersikap loyal kepada sebagian yang lain, demikian pula orang-orang Nasrani, kedua kubu sepakat memusuhi kalian. Kalian wahai orang-orang mukmin lebih patut untuk saling tolong-menolong di antara kalian. Barangsiapa mengangkat mereka sebagai pemimpin maka dia termasuk ke dalam golongan mereka, hukumnya adalah hukum mereka. Sesungguhnya Allah tidak membimbing orang-orang zalim yang bersikap loyal kepada orang-orang kafir.

      5. Tafsir An Nur karya Teungku Muhammad Hasbi Ash Siddieqy:

Kata Ibnu Jarir: “Allah melarang orang-orang mukmin menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong dan teman setia. Allah menerangkan bahwa mereka yang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong dan teman setia dipandang membuat pertentangan kepada Allah, Rasul, dan para mukmin. Allah dan Rasul terlepas daripadanya.” Jelas bahwa ayat ini turun berkenaan sikap munafik yang bersahabat setia dengan bangsa Yahudi atau Nasrani, serta memberi pertolongan kepada mereka karena takut kepada bencana yang mungkin menimpa mereka, apabila orang-orang mukmin mendapat kesusahan. Orang-orang Yahudi sangat tinggi solidaritasnya di antara sesama mereka, begitu pula kaum Nasrani. Mereka itu seia-sekata membenci para mukmin. Ayat ini menjelaskan tentang penyebabnya kita dilarang menjadikan orang Yahudi dan orang Nasrani sebagai teman setia, karena mereka itu seia-sekata menentang kita. Kata Ibnu Jarir: “Orang yang mendahulukan Yahudi dan Nasrani dsripada para mukmin dipandang menjadi orang Nasrani dan orang Yahudi. Sebab, tidaklah seseorang mengikat sumpah setia dan memberi pertolongan kepada seseorang, kecuali apabila ia meridhai orang itu dan agamanya. Apabila ia telah meridhai agama orang itu berartilah dia memusuhi orang yang seagama dengannya. Dari penjelasan ini kita mendapat suatu ketentuan bahwa apabila terjadi kerja sama, bantu-membantu, dan bersahabat setia antara dua orang yang berlainan agama untuk kemaslahatan-kemaslahatan dunia, yang demikian itu tidaklah masuk ke dalam larangan ayat ini. Apabila para muslimin bersahabat setia dengan suatu umat yang tidak Islam, karena persesuaian maslahat, yang demikian itu tidak dilarang. Orang yang bersahabat setia dengan musuh-musuh orang mukmin, menolong mereka atau meminta tolong kepada mereka dipandang sebagai orang yang zalim. Sebab, hal itu berarti meletakkan perwalian bukan pada tempatnya. Dan Allah tidak akan menunjuki orang tersebut kepada kebajikan.

       6. Tafsir Al Furqan karya A. Hassan:

Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan Yahudi-Yahudi dan Nashara itu sebagai ketua-ketua; sebahagian daripada mereka (pantas) jadi ketua bagi sebahagiannya (sesama golongan mereka, .ed); karena barang siapa dari antara kamu menjadikan mereka sebagai ketua-ketua, maka sesungguhnya ia (jadi) sebahagian dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

       7. Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka: (catatan, karena sangat panjangnya pembahasan beliau, maka kami meringkasnya)

Untuk memperteguh disiplin, menyisihkan mana kawan mana lawan, maka kepada orang yang beriman, diperingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin.” (pangkal ayat 51). Disini jelas dalam kata seruan pertama, bahwa bagi orang yang beriman sudah ada satu konsekwensi sendiri karena imannya. Kalau dia mengaku beriman pemimpin atau menyerahkan pimpinannya kepada Yahudi atau Nasrani. Atau menyerahkan kepada mereka rahasia yang tidak patut mereka ketahui, sebab  dengan demikian bukanlah penyelesaian yang akan didapat, melainkan bertambah kusut. kemudian Tuhan melajutkan sabda-Nya: “Sebagian mereka adalah pemimpin-pemimpin dari yang sebagian.”  Maksud ayat ini dalam dan jauh. Artinya kalaupun orang Yahudi dan Nasrani itu yang kamu hubungi atau kamu angkat menjadi pemimpinmu, meskipun beberapa orang saja, ingatlah kamu bahwa sebagian yang berdekat dengan kamu itu akan menghubungi kawan-kawannya yang lain, yang tidak kelihatan menonjol ke muka. Sehingga yang mereka kerjakan di atas itu pada hakikatnya ialah tidak turut (sama) dengan kamu. Kadang-kadang lebih dahsyat lagi dari itu. Dalam kepercayaan sangatlah bertentangan di antara Yahudi dengan Nasrani; Yahudi menuduh Maryam berzina dan Isa Almasih Anak Tuhan, dan juga Allah sendiri yang menjelma jadi Insan. Sejak masa Isa almasih hidup, orang Yahudi memusuhi Nasrani, dan kalau Nasrani telah kuat kedudukannya, merekapun membalaskan permusuhan itu pula dengan kejam sebagaimana selalu tersebut dalam riwayat lama dan riwayat zaman baru. Tetapi apabila mereka hendak menghadapi Islam, yang keduanya sangat membencinya, maka yang setengah mereka akan memimpin setengah yang lain. Artinya di dalam menghadapi Islam, mereka tidak keberatan bekerjasama. Sambungan ayat: “Dan barangsiapa yang menjadikan mereka itu pemimpin di antara kamu, maka sesungguhnya dia itu telah termasuk golongan dari mereka.”  Suku ayat ini amat penting diperhatikan. Yaitu barangsiapa yang mengambil Yahudi atau Nasrani menjadi pemimpinnya, tandanya dia telah termasuk golongan mereka, artinya telah bersimpati kepada mereka. Tidak mungkin seseorang yang mengemukakan orang lain jadi pemimpinnya kalau dia tidak menyukai orang itu. Meskipun dalam kesukaanya kepada orag yang berlain agama itu, dia belum resmi pindah ke dlaam agama orang yang disukainya itu. Agama Islam kadang-kadang masih mereka kerjakan, tetapi hakikat Islam telah hilang dari jiwa mereka. Saking tertariknya dan tergadainya jiwa mereka kepada bangsa yang memimpinnya tidaklah mereka keberatan lagi menjual agama dan bangsanya dengan harga murah. “Sesungguhnya Allah tidaklah akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (ujung ayat 51). Maka orang yang telah mengambil Yahudi atau nasrani menjadi pemimpinnya itu nyatalah sudah zalim. Sudah aniaya, sebagaimana kita maklum kata-kata zalim itu berasal dari zhulm, artinya gelap. Mereka telah memilih jalan hidup yang gelap, sehingga terang dicabut oleh Tuhan dari dalam jiwa mereka. Dan orang yang jiwanya dipimpin oleh Yahudi dan Nasrani itu akan tetap menjadi kudis dan borok di hadapan mata mereka. Di ayat ini ditegaskan bahwa yang dilarang ialah mengambil mereka (Yahudi atau Nasrani, .ed) jadi pemimpin. Tetapi pergaulan manusia di antara manusia, yang sadar akan diri tidaklah terlarang. Demikian juga tidak ada larangan berbaik-baik dengan tetangga yang memeluk agama lain. (boleh bermuamalah, ed.). Rasulullah Saw. pernah menggadaikan perisainya kepada tetangganya yang Yahudi untuk pembeli gandum. Beliau pernah menyembelih kambing untuk makanan sendiri, lalu khadamnya (pembantu) disuruhnya segera mengantarkan sebagian daging kambing itu ke rumah tetangganya Yahudi itu.

Demikian, telah kami paparkan tafsir dari berbagai karya ulama perihal Surah Al Maidah ayat 51, semoga menambah khazanah keilmuan kita yang selanjutnya dapat kita aplikasikan pada kehidupan dan semoga kita terus terpacu untuk mempelajari Al Qur’an. Selamat belajar

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: