Alim Mengenang Alim

Tidaklah seseorang membaca biografi orang-orang besar yang pernah muncul dari suatu kelompok, melainkan dia akan merasakan mentalitas baru yang merasuki jiwanya sehingga menggerakkan raganya untuk melakukan berbagai hal dan amal yang mulia. (Al Himmah al Aliyah: Mu’awwiqatuha wa Muqawwimatuha, Dr. Muhammad Ibrahim Al Hamad)

Tulisan di bawah ini  bercerita tentang seorang pahlawan nasional yang gaungnya kurang begitu terdengar. Nama beliau Ki Bagus Hadikusomo. Beliau merupakah ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. Saya menjumpai tulisan tentang Ki Bagus di kediaman pengurus wilayah Pemuda Muhammadiyah di bilangan Nitikan. Saya selalu kagum dengan orang-orang yang menghiasi rumahnya dengan tatanan buku, terutama di bagian ruang tamu. Menyiratkan bahwa sang pemilik rumah sangat mengapresiasi ilmu. Peduli dengan warisan Nabi. Ruangan tersebut juga berlaku sebagai lapak buku. Di salah satu mejanya tergeletak berbundel-bundel majalah Hikmah yang dipimpin oleh M. Natsir. Majalah yang terbit sekali tiap pekan periode tahun 50-an. Kucoba membaca beragam tulisan disana, banyak ditulis oleh tokoh-tokoh Masyumi, salah satunya Buya HAMKA. Artikel di bawah ini ditulis Buya untuk mengenang Allahuyarham Ki Bagus Hadikusumo. Tidak kutulis lengkap persis di majalah, hanya sebagiannya saja, semoga banyak ibroh yang bisa diambil.

Urgensi menelaah perjalanan hidup (biografi) orang-orang besar, pahlawan, ulama yaitu untuk membangkitkan mentalitas tinggi dan menggerakkan tekad. Kita bisa meneladani nilai-nilai yang mereka wariskan, mencontoh aktivitas mereka dalam mengupayakan perbaikan karena dalam penjelasan biografi mereka tersingkap sisi-sisi kebesaran pada diri mereka, jejak-jejak mereka, serta pernghargaan dan penghormatan dari sejumlah orang besar lainnya. Pembacaan kisah hidup para tokoh, ulama dapat pula mendampilkan mata rantai sejarah yang sebelumnya jauh mejadi gambaran nyata di hadapan mata sehingga menjadi buah inspirasi.


ALMARHUM KI BAGUS HADIKUSUMO

Oleh : HAMKA

Pada petang Kamis malam Jum’at 4 jalan 5 Muharram 1374, bersetuju dengan 2 jalan 3 September 1954, telah meninggal dunia Ki Bagus Hadikusumo, bekas Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.

Beliau dilahirkan dalam tahun 1890 di Yogyakarta. Dia bersaudara 4 orang laik-laki dan seorang perempuan, kelimanya terkenal sebagai orang-orang yang terkemuka dalam pergerakan Muhammadiyah. Yaitu Haji Syuja’, Haji Fachrudin, Haji Ki Bagus Hadikusumo, H. Zaini dan Siti Munjiyah. Dengan ini telah empat orang yang meninggal dari kelima bersaudara itu, dan tinggallah yang paling tua, yaitu H. Syuja’.

Pembina Muhammadiyah

Sebagai seorang kyai yang berkedudukan baik, termasuk Abdidalem istana Yogyakarta dan mampu pula karena kemajuan perniagaan batik, Kyai Ahmad Dahlan telah membangkitkan pergerakan Muhammadiyah dan diresmikan pada tahun 1912. Maka kelima bersaudara itu sejak saat itu pula telah menjadi pengikut yang setia daripada Kyai Dahlan. dan telah turut membina pergerakan Muhammadiyah dengan segenap tenaga mereka.

H. Syuja’ terkenal karena dialah yang mula-mula menggerakkan bagian Muhammadiyah yang bernama “Penolong Kesengsaraan Umum” (PKU), H. Fachrudin terkenal sebagai orang yang kedua sesudah K.H. Dahlan. H. Zaini terkenal pula karena kemahirannya tentang agama Kristen, Siti Munjiyah sebgai muballighat ‘Aisiyah yang telah menjalani seluruh Indonesia. Dan Ki Bagus adalah seorang tenaga pemikir, mendalami soal-soal agama, sehingga di waktu mudanya banyaklah murid-murid yang datang berguru kepadanya, terutama dalam hal tafsir. Maka terdapatlah di Jogja ulama atau Kyai-Kyai yang berpengetahuan luas. Disamping bergerak dalam Muhammadiyah, tidak pula mereka lengahkan soal-soal politik. Ki Bagus sendiri pernah masuk Budi Utomo dan kemudian masuk Syarikat Islam dibawah pimpinan almarhum H.O.S. Tjokroaminoto.

Namun beliau tetap menjadi tenaga “dalam”. Namanya keluar pergerakan pada waktu itu tidaklah begitu terkenal. Yang terkenal ialah H. Muchtar, H. Hisyam, H. Fachrudin, K.H. Ibrahim, K.H. Mas Mansur, A.R. St. Mansur. Tetapi dalam Muhammadiyah sendiri dirasakan bahwa banyak soal yang belum dapat diputuskan sebelum didengar pertimbangan-pertimbangan daripada Ki Bagus Hadikusumo.

Pribadinya adalah menyerupai sahabat Nabi Abu Dzar. Suka akan kesederhanaan. Dan jemu akan hidup bermewah-mewah.

Saya mulai bertemu dan mengenal beliau ialah di tahun 1924, ketika dibawa ke rumahnya mempelajari Tafsir Qur’an oleh paman saya Ja’far Amrullah. Agaknya karena masih amat muda, belumlah saya kenal benar pribadi beliau. Tetapi dari tahun ke tahun, penghormatan saya kepada beliau bertambah besar. Sebab boleh dikatakan setiap waktu kakak saya A.R. St. Mansur memuji namanya. Dan kemudian setelah saya mengadiri Kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo (1929) saya lihat sendiri bagaimana kesayangan pemimpin-pemimpin Muhammadiyah kepada dirinya. Terutama K.H. Mas Mansur. Yang saya pada waktu itu hanya kelucuannya, kegembiraannya dan kesederhanannya. Tetapi setelah saya kian lama kian masuk ke dalam masyarakat Pergerakan Muhammadiyah, kian tahulah saya siapa beliau.

Hidup dan falsafahnya

Lautan ilmu yang keras memegang agama dan memegang strategi perjuangan Umat Islam. Tetapi tidak mau terkemuka. Ketika kursi-kursi untuk Pengurus Besar di Kongres dideretkan sebelah muka, dan anggota-anggota P.B. duduk dengan safnya yang teratur. dia sendiri sengaja duduk kebelakang-kebelakang bersama dengan utusan banyak. Berbicara sambil lucu, mendengar keluh-kesah dari daerah karena halangan kaum adat dan pemerintah penjajahan. Dan pakaian yang dipakainya kadang-kadang tidak teratur, sebab dia mempunyai filsafat sendiri tentang memakai pakaian. Dia tidak keberatan datang ke Kongres Bukittinggi dengan memakai pakaian H.W. (Hizbul Wathan,-ed.), sebab dengan pakaian pandu dapat potongan (reduksi) pada K.P.M. Tetapi bila dia menegakkan hujjahnya di dalam Majelis Tarjih atau Tanwir, jarang yang dapat membantah.

Filsafatnya tentang memimpin pergerakan ialah: “Kemukakan mana yang mau kemuka. Dia akan tetap duduk di belakang-belakang”. Sebab rupanya dia tahu bahwa yang di muka itu tidak akan dapat berbuat apa-apa kalau tidak bertanya kepadanya.

Seketika didirikan Partai Islam Indonesia, dan Wiwoho dipilih menjadi formatur, Ki Bagus telah turut dipilihnya menjadi anggota Dewan Pimpinan (1939).

Berturut-turut pemuka-pemuka Muhammadiyah telah meninggal. K.H.A. Dahlan digantikan oleh K.H. Ibrahim dan disokong oleh H. Fachrudin. Semuanya meninggal. Lalu ketua P.B. diganti dengan H. Hisyam. Meninggal H. Hisyam diganti dengan K.H. Mas Mansur. Dan seketika Jepang memasuki tanah air kita, tampillah pemimpin “Empat serangkai (Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H. Mas Mansur). Sebab itu K.H. Mas Mansur terpaksa meninggalkan Jogja. Dan ketua P.B. (Pengurus Besar, -ed.) harus diganti. Siapa akan gantinya? Tidak ada suara lain, melainkan kepadanyalah harus jatuh giliran menjadi ketua P.B. Walaupun yang sama tuanya, sama murid langsung dengan K.H. Ahmad Dahlan, yaitu abangnya H. Syuja’ dan H. Muchtar masih hidup, keduanyapun menyerahkan kepadanya. Apatah lagi pemimpin yang muda-muda. Hal yang tidak diingininya terpaksa diterimanya.

Sebagai ketua dari Pergerakan agama yang besar itu, tentu saja dia dihormati dan dibesarkan. Kadang-kadang harus dinampakkan benar penghormatan itu, karena hendak menunjukkannya kepada pihak kekuasaan Jepang. Padahla beliau bosan dan jemu dengan cara yang demikian. Ini kerap menimbulkan jengkal pada yang muda-muda, seumpama Prof. A. Kahar Muzakkir, Farid Ma’ruf dan H.M. Yunus Anis. Dia tidak mengenal dan tidak mau kenal protoko-protokolan. Kadang-kadang meskipun dikenalnya, dilanggarnya. Sengaja dilanggarnya! Baginya pemimpin rakyat ialah hidup secar kerakyatan. Karena dia bukan “Abdidalem” atau Keluarga Sultan. Pendirian demikian tetap dipegangnya sampai matinya.

Dalam berbagai zaman

Ketika zaman Jepang Bung Karno dan Bung Hatta pergi menghadap Kaisar Jepang ke Tokyo. Beliaupun ikut. Sebab baik Bung Karno dan Bung Hatta, ataupun pihak Jepang sendiri, tahu siapa yang berdiri di belakang “Kyai lucu” yang sangat sederhana ini. Pergi ke Jepang pun dia tetap seperti itu juga. Kadang-kadang protokol dilanggarnya! Sehingga Bung Karno dan Bung Hatta terpaksa menahan rasa jengkel terhadap orang yang walaupun bagaimana, harus diakui kebesarannya.

Saya teringat seketika saya datang ke Jogja tidak lama setelah beliau kembali dari Tokyo. Saya ingin hendak melihat Bintang Bahduri “Ratna Suci Kelas III” yang diterimanya bersama Bung Hatta, (Bung Karno mendapat Ratna Suci Kelas II). Diperlihatkannya bintang itu dengan sikap yang lucu, sehingga kalau kiranya ada Jepang yang melihat tentu mereka akan marah. Kadang-kadang Kimono hadiah Tojo dipakainya ke rapat!!

Setelah Zaman Revolusi, beliau turut mendirikan Masyumi dan duduk dalam Majelis Syuro Masyumi bersama dengan Kyai Hasyim Asy’ari, Haji Agus Salim dan pemuka-pemuka yang lain.

Di tahun 1950 Muhammadiyah mengadakan kongresnya kembali di Jogja, Kongres ke-31. Beliau terangkat kembali menjadi ketua P.B. Menolaklah beliau dengan keras. Tetapi suara telah bulat dalam Majelis Tanwir, bahwa tidak ada orang lain yang pantas dan berhak, melainkan beliaulah.

Seketika pengangkatan Ketua diresmikan, beliau tidak datang! hanya surat saja dikirimkannya. Sudah lama rupanya beliau merasa dirinya sakit. Bukan badan lahirnya yang sakit, tetapi hatinya yang sakit. Ini sudah kerap kali diterangkannya.

Yang menyakit hatinya ialah melihat bahwa tidak ada lagi orang yang benar-benar memikirkan agama. Politik sudah terlalu terletak di muka, sehingga hukum kadang-kadang telah diabaikan. Pemimpin-pemimpin berkaok-kaok menyebut agama, tetapi dia sendiri tidak memperdulikan agama. Kehidupan sehari-hari jauh dari agama. Dia mengharap bahwa kaum wanita Islam dalam gerakkan ‘Aisiyah akan tetap memegang teguh pendirian agama. Padahal dilihatnya ‘Aisiyah yang diharapkannya itu, dengan tidak sadar, telah berfikir cara fikiran lain. Kebudayaan barat yang selama ini dicela, telah masuk ke dalam rumah tangga orang-orang yang katanya memperjuangkan Islam selama ini.

Kesederhanaan dan tegas

Pemuka-pemuka agama berebut-rebut mencari pangkat, sehingga perjuangan yang menjadi dasar hidup selama ini, telah mereka tinggalkan. Satu kali pernah dia berkata : “Dahulu kita dengan teman kita N.U. bertengkar memperkatakan hukum agama. Tentang talqin mayit, tentang melapalkan niat. Tentang khutbah dengan bahasa Indonesia. Sekarang kita bertengkar lagi, tetapi sudah lain! Kita bertengkar tentang kursi, tentang pangkat, tentang jabatan menteri. Dahulu masih agama yang kita perdebatkan, tetapi sekarang tentang dunia”.

Kita yang lain pun memikirkan ini, tetapi tidak sampai menjadi penyakit. Namun bagi beliau rupanya masuk hati betul-betul.

Oleh karena wafatnya Bunyamin, beliaulah dikemukakan Masyumi menjadi gantinya duduk di Parlemen.

Mungkin orang berfikir , tentu sekarang akan berubah sikap hidup beliau. Sebab jaminan belanja telah cukup! Tetapi persangkaan itu meleset. sebab tambah jadi anggota Parlemen, tambah jelas kesederhanaannya. Orang berebut membeli auto baru dengan prioriteit dan ada yang menjualnya kembali, sehingga dituntut di muka hakim, namu beliau masih naik becak atau naik tram ke parlemen. Di dekat beliau di hotel, seorang anggota parlemen “tawar menawar” dengan orang-orang yang ingin mendapat kuota haji, namun beliau hanya melihatnya dengan senyum.

Satu kali kami diundang bertukar fikiran oleh Presiden ke istana. Bagaimana hendaknya menyelesaikan pemberontakan batalyon 426 di Jawa Tengah. Satu per satu kami masuk. Saya lihat sendiri Bung Karno memeluknya dan terlompat dari mulutnya : “Oh, Guruku!” Sehingga kami yang lain, termasuk saya, menjadi iri hati! Bukankah sayapun gurunya?

Setelah duduk bercakap-cakap dan bergilir berbicara, akhirnya tibalah giliran pada beliau. Maka dengan terus terang beliau berkata : “Mungkin memang diatur demikian rupa, supaya hati golongan Islam sakit! Mereka hanya dipergunakan orang seketika perlu untuk mencapai hajatnya! Tetapi setelah hajat tercapai, kekuatan Islam itu harus dipatahkan! Karena kalau secara legal, Islam mesti menang. Lalu dibikin cara yang lain. Ahli-ahli ketentaraan dari pihak Islam, yang besar pengaruhnya, dikirim ke luar negeri! Yang di dalam dikecewakan hatinya, sehingga yang tidak sabar menjadi gelap mata!”

Ketika dia berbicara itu pecinya dibukanya dan dia bersila di atas kursi empuk. Bung Karno hendak berbicara sebelum perkataannya sampai. Lalu dia berkata : “Tunggu dulu ! Biarkan perkataan saya lepas !”

Lalu disambungnya pula : “Saya percaya bahwa hal ini tidaklah Bung sukai! Tetapi saya percaya pula, bahwa Bung tahu juga akan hal ini”.

Bung Karno mengangguk !

Penutupnya beliau berkata :

“Kekuatan Indonesia ini terletak pada semangat Tauhidnya Umat Islam. Segala kejadian ini saya rasa, adalah politik orang lain, yang sengaja hendak meremukredamkan Indonesia. Kalau Islam tidak kuat lagi, apalah artinya kekuatan Indonesia!”

Inilah Ki Bagus !


Tidak sedikit orang yang termotivasi untuk mengerjakan amal shalih karena kisah orang-orang besar yang mereka baca, atau karena suatu peristiwa yang diceritakan kepada mereka. (Al Himmah al Aliyah: Mu’awwiqatuha wa Muqawwimatuha, Dr. Muhammad Ibrahim Al Hamad)

 

 

One thought on “Alim Mengenang Alim

  • Saya adalah seorang cucu beliau, tengah mengumpulkan jejak-jejak peninggalan Mbah Hadi yang masih tersisa sebagai ibroh bagi kami.

    Terima kasih sudah menuliskan ini. Mohon ijin untuk share ini di socmed.

    Jazakallahu khoyron katsir.

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: