Kebocoran Sejarah Peradaban, Paradoks Pembinaan Kepemudaan

11206127_818689914879137_1128290116530148454_n

 

Oleh: Isnan Hidayat, S.Psi. Co-Founder Gerakan Citarasa Kebaikan Pelajar Indonesia.


Harapan besar sejak awal telah menghinggapi para pemuda. Melihat betapa peperangan dan pertempuran telah menyisakan reruntuhan dalam kehidupan sehari-hari telah membuat kita ngeri. Minuman keras, kekerasan, kriminalitas, korupsi, konflik SARA, hingga kekacauan pengelolaan negara. Siapa yang tidak menaruh harapan besar kepada pemuda? Sedangkan para tetua yang seolah menjadi veteran ini tak jua menemukan titik bahagia meski telah bertempur setiap harinya. Siapa yang tidak menaruh ekspektasi besar pada pemuda? Sedangkan para orang yang mengaku lebih dewasa ini masih bertindak layaknya kanak saja. Siapa yang tidak menanam investasi besar pada pemuda? Sedangkan para seniornya ini telah kebas oleh investasi, seolah mau ditanamkan modal berapapun takkan merubah kondisi.

img_9278

Harapan – Ekspektasi – Investasi, normalnya akan membawa kita kepada keseriusan pengelolaan potensi – input – modal. Bahwa setiap munajat dan doa yang kita ucapkan selalu menuntut keseriusan amal. Bahwa setiap visi strategis yang kita canangkan selalu menuntut keseriusan program. Bahwa setiap Investasi yang kita tanam selalu menuntut keseriusan pemrosesan modal. Begitulah keniscayaan, Doa diiringi Amal, Visi diiringi Program, Investasi – Pemrosesan Modal. Namun sayangnya hari ini telah nampak sebuah gejala paradoks pembinaan, dimana para pembina pemuda mulai terlena dengan godaan besarnya potensi yang pemuda miliki dan besarnya jumlah SDM yang datang dan pergi.

Bahkan jika kita memandang pemuda menggunakan konteks yang paling tidak manusiawi saja, konteks investasi permodalan misalnya, maka secara sadar kita harus mengakui bahwa begitu banyak kebocoran investasi kita di berbagai lini. Pertanyaan sederhana untuk diri pribadi kita adalah: berapa banyak pemuda yang telah kita bina, berapa banyak yang berhasil kita antarkan ke puncak karakternya, berapa banyak yang memilih keluar dari jalur pembinaan kita, dan pada akhirnya sampai di mana mereka saat ini bermuara.

Pertanyaan sederhana untuk organisasi dan lembaga pendamping pemuda adalah: berapa banyak yang telah kita libatkan dalam program-program kita, berapa banyak yang telah ikut serta dalam mobilisasi gerakan kita, siapa saja yang telah ikut serta dalam aktivitas kita, dan apa yang telah mereka dapatkan selama bersama dengan kita.

Saya tidak sedang memberikan doktrinasi tentang aspek kuantitas secara membabi-buta. Saya tidak sedang bicara tentang Total Quality Management yang untuk lembaga kita yang masih sederhana seolah tidak realistis dan mengada-ada. Saya hanya sedang berbicara tentang usaha meminimalisasi sebuah kebocoran yang paling berbahaya, sebuah urgensi perapian data.

Sekali waktu, lakukanlah sebuah tracer study tentang alumni-alumni program pembinaan dan gerakan kita. Kita cukup melakukan tracking tentang siapa saja yang dalam kurun waktu tertentu pernah kita bina, lalu tanyakan pada mereka apa peranan program pembinaan kita terhadap aktivitas mereka saat ini. Tidak usah jauh-jauh, alumni tahun ketiga saja. Kalau ternyata proses ini terhambat karena kita tidak punya data siapa saja yang pernah kita bina, ini adalah model bencana pertama, bencana administrasi. Kalau ternyata proses ini terhambat karena kita tidak punya akses kepada para alumni, ini adalah model bencana kedua, bencana akses informasi. Kalau ternyata proses ini sampai kepada evaluasi bahwa program pembinaan kita dahulu tidak memberikan dampak apa-apa kepada mereka saat ini, maka ini adalah model bencana ketiga, bencana investasi. Sebagai seorang pembina, kita tidak bisa mengelak dari setiap kemungkinan model bencana. Kita terima saja setiap bencana yang ada, paling tidak setelah ini sepahit apapun itu, kita tahu apa program mitigasi apa yang perlu kita lakukan, kita tahu secara riil program pembinaan apa yang harus kita evaluasi.

Kebocoran yang saya maksud, yang saya sebut dengan paradoks pembinaan pemuda ini, menjadi satu hal yang sangat substansi. Ini tidak bisa diremehkan meskipun kita mungkin hanya mendapatkan gejala “toh kita hanya tidak punya data”. Ini tidak bisa dinafikan hanya karena sampai saat ini “toh kita masih eksis saja”. Ini tidak bisa dibiarkan dengan sebuah justifikasi “toh sampai sekarang mereka masih percaya pada kita”. Karena paradoks ini bersifat sangat substansi, maka jangan dibayangkan ini seperti layaknya kebocoran di ranah keuangan yang langsung membuat kita terkendala hutang, atau kebocoran administrasi yang membuat kita tidak bisa bergerak secara legal, atau kebocoran profesionalitas yang membuat kita tidak dipercaya.

Lebih jauh dari semua itu, paradoks pembinaan pemuda mengenai keseriusan pengelolaan data, akses informasi alumni, dan kebermanfaatan program pendampingan ini mengancam kita di ranah yang paling inti: apakah benar bahwa diri dan lembaga kita merupakan solusi dari permasalahan pemuda dan peradaban ini? Karena seringkali kita begitu menggebu menuliskan latar belakang masalah yang membuat lidah kelu. Karena seringkali kita menakut-nakuti pihak donor dan investor tentang betapa besar bahaya yang kita hadapi. Karena seringkali kita melakukan propaganda yang heroik pada para calon pemuda terbina tentang betapa hebat dan strategisnya program yang kita berikan.

Namun faktanya, kita hanya hebat dalam penyusunan bab pendahuluan dan daftar pustaka saja, di bab metodologi dan pembahasan nyatanya kita alpa. Kita tidak punya data, akses informasi alumni, apalagi jaminan / garansi keberhasilan program jangka panjang. Dengan begitu saja kita masih berani mengklaim di bab kesimpulan bahwa kita adalah pahlawan peradaban.

Lalu, apakah tidak ada hal yang bisa dan boleh membuat kita berbangga, atau setidaknya termotivasi untuk tetap setia menjalani semua aktivitas ini? Hal itu tergantung cara pandang kita terhadap situasi. Saya tidak ingin kita mendewakan loyalitas dan komitmen tanpa diiringi kualitas yang memadai. Kalau hal ini terjadi ini ibarat pelaku KDRT yang selalu mengungkit kesetiaan pasangan sebagai solusi agar korbannya mau memahami. Atau ini layaknya orangtua dengan tipe pola asuh ambivalensi yang melarang anaknya bermain di luar rumah tapi di dalam rumahnya tidak ada komunikasi.

Jangan sampai hanya karena kita mengklaim kita setia membina para pemuda kita, kita menjadi alpa untuk mengevaluasi bagaimana kualitas pembinaan Kepemudaan kita selama ini. Menurut saya, bangsa ini telah selesai dan Purna dalam hal harapan – ekspektasi – investasi bagi pemuda. Saatnya kita move on menuju ke tahapan berikutnya: perapian data, pemutakhiran sistem & perbaikan akses informasi, dan studi analisis mendalam mengenai kebermanfaatan program jangka panjang.

Bisa jadi Soekarno muda pernah ikut dalam salah satu program pembinaan kita. Namun ia urung untuk terlahir kembali karena namanya tidak tercantum dalam presensi. Bisa jadi HAMKA muda pernah hadir dalam gerakan aksi dan mobilisasi kita. Namun ia urung untuk terlahir kembali karena formulir pendaftarannya hanya tersimpan di gudang berdebu milik lembaga kita. Bisa jadi ada calon pahlawan zaman yang sempat bersama kita. Bisa jadi ia tetap akan terlahir, entah di kolong jembatan, di sudut kota nan pengap, atau di jalanan gelap. Bisa jadi ia tetap akan terlahir, tetapi tidak dengan nilai-nilai yang kita harap. Entah di mana para calon cahaya zaman itu kini hinggap.

Setiap zaman memiliki tuntutannya, maka setiap zaman memiliki konsekuensinya. Setiap zaman memiliki semangat dan cahayanya, maka setiap zaman memiliki pejuangnya. Ia akan terlahir kembali memenuhi panggilan semangat zaman yang bergelora, dengan atau tanpa kita.

 

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: