Lingkaran-lingkaran Kebaikan

PERTAMA

Nama ku Putri, dan aku tak bisa memilih dilahirkan seperti apa, dalam keadaan apa, dan kapan. Pagi ini aku melihat burung yang mampu terbang bebas di luar sana, dan taman yang sudah tak terawat karena bekas peninggalan penjajah jaman dahulu. Di dalam ruangan dengan satu jendela ini, aku menghabiskan hari-hariku sejak dulu sekali. Keterbatasan yang aku milikilah yang membuatku demikian, merasa terkutuk atas hal yang tak pernah sama sekali aku lakukan. “Apa sebenarnya yang Dia pikirkan saat memutuskan aku lahir di dunia ini?”

Hari ini mungkin akan sedikit berbeda dengan hari biasa yang aku lalui, “Kamu akan mendapatkan suasana baru,” kata orang-orang di sekitarku dengan wajah sangat gembira dan hanya senyum simpul formalitas sebagai balasanku pada mereka. Aku akan pindah menempati rumah baru kami sekeluarga. Kamar baru dengan warna cat biru yang cerah dan satu buah jendela yang mengarah langsung ke taman tetangga sebelah adalah rutinitas baruku di sini. Bau dan suasana ini memang sangat baru bagiku, yang dulunya tinggal di kota sekarang berpindah ke suatu daerah yang asing dan cukup jauh dari kota. Dan cerita mereka pun hal baru bagiku.

Malam dini hari menjelang subuh itu, dengan hawa dingin yang menusuk tulang, aku terbangun. “Aduh, Mama lupa menutup jendela kamarku,” pikirku. Tiba-tiba terlihat bayangan keluar dari halaman rumah sebelah rumahku. “Apakah dia maling di rumah itu? Ini kan masih belum subuh, belum waktunya orang keluar beraktifitas,” pikirku. Bulan yang tak lagi tertutupi awan menjadi lampu untuk menyinari sosok pemuda itu dan entah apakah karena angin dingin ini, tiba-tiba ada kehangatan yang menyapaku. Mata kami bertemu, sangat menenangkan suasana saat itu. Dan dengan senyum kecil dia melambaikan tangan kepadaku, lambaian tangan yang sangat hangat. Setelah itu dia tertawa kecil dan pergi menjauh. Bingung, tetapi 7 detik itu cukup untuk aku merasakan 7 detik terlama dan terhangat dalam hidupku. Aku tertidur lagi dan mimpi saat itu menjadi sangat indah sampai adzan subuh berkumandang membangunkanku kembali untuk berjumpa dengan Sang Pencipta meskipun aneh subuh ini, adzan dan iqomat suaranya berbeda.

Pagi hari datang dengan pancaran sinarnya yang menjadi lebih hangat dari biasanya. “Ah, perasaan aneh apa ini?” pikirku kebingungan. Kuhabiskan pagi hari itu dengan mereka-reka, membayangkan, dan menanyakan pada diri sendiri mengapa kejadian tadi terasa begitu spesial sekaligus bertanya-tanya siapa sosok pemuda yang dia temui semalam. Pikiran yang berkecamuk dalam rumahku pun pecah dengan suara sirine mobil polisi yang berhenti tepat di samping rumahku. Selain mobil polisi, terlihat kejauhan ada seorang wanita cantik menangis sedang ditenangkan oleh dua orang perempuan berkerudung, yang satu terlihat kutu buku dan satunya jilbab lebar yang sangat meneduhkan. Disampingnya ada seorang pria dengan wajah yang sangat meneduhkan juga, memiliki jenggot tipis di wajahnya meski tetap saja tidak sehangat pria yang tengah kubayangkan itu.

Dengan memencet bel yang tersedia di samping kasurku, ibuku datang dengan membawa senyumnya. “Ada apa nduk?” Tanya ibuku lembut. Belum sempat aku menjawab, sepertinya muka bingung ku telah menggambarkan jelas maksud pertanyaanku, “Tetangga sebelah lagi kena musibah nduk, tadi subuh yang punya rumah meninggal Nduk, dia tinggal sendiri di sana karena orang tuanya semua di luar negeri. Badung bener anaknya katanya nduk,” kata ibu menjelaskan. “Jangan-jangan dia pria itu? Tidak mungkin, sepertinya tadi dia masih bersemangat kok. Tidak mungkin,” pikirku mencoba menyakinkan diri. “Meninggalnya kenapa bu?” tanyaku.

img_1539

 

KEDUA            

Namaku Eja, dan menginjak usia remaja seperti ini aku mengenal kata cinta dalam diam. Entah, benar cinta atau hanya kekaguman akan sosok yang begitu bersinar di mataku. Kehidupan sekolahku bisa dikatakan sangat datar. Berangkat sekolah, mendengarkan pelajaran, mengisi waktu luang dengan membaca buku di perpustakaan, kemudian pulang. Tidak seperti siswi lain yang menghabiskan waktu dengan bermain, mengobrol atau mengupdate gambar-gambar di media sosial, aku lebih memilih asyik dengan dunia ku sendiri yakni membaca buku. Hal ini lah yang membuatku merasa memasuki dunia yang baru, dunia dengan rasa penasaran terhadap sosok seorang pemuda.

Seorang pemuda bermuka teduh, dengan jenggot tipisnya itu yang sering terlihat tertawa kecil bersama teman-temannya. Pertama kali aku melihatnya dengan perangainya yang memukau adalah saat perjalananku menggunakan bis kota pagi itu menuju sekolah. Aku tidak sengaja bertemu dengannya pagi itu. Pemuda yang bermuka teduh itu tengah membawa se keranjang jualan milik seorang wanita paruh baya. Aku yang melihat tak ada lagi tempat duduk saat itu, berdiri dan mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk duduk. “Terima kasih ya dek,” ucap wanita paruh baya itu lembut disertai senyum. Pemuda itu pun tersenyum ke arahku. Senyuman yang mampu membuat ku salah tingkah dan secara reflek ingin mengajaknya bicara. “Ibunya mas?” Tanya ku saat itu. Pertanyaan yang salah pikirku, kenapa aku memulai dengan percakapan itu, bukan percakapan lainnya. “Bukan dek, tadi kebetulan bertemu beliau saja kok, sama kayak kamu tadi yang mempersilahkan beliau tadi dek. Terima kasih ya dek,” sungguh suara itu sangat lembut. Lama tak ada percakapan sama sekali sampai bis sampai di dekat sekolah, “O iya, kita satu sekolah kan, itu seragam nya sama. Ayo siap-siap turun dek,” itulah percakapan terakhir yang terjadi di bis itu. Mungkin, biasa saja tapi bagiku itu adalah lompatan besar dalam hidupku dan cinta.

Setelah itu bisa dipastikan, aku memiliki keseharian baru, yakni mencari tahu sosok pemuda itu. Akhirnya aku tahu namanya adalah mas Dilan, kakak kelas satu tingkat di atasku. Dan yang membuatku tambah kagum adalah beliau dipercaya sebagai ketua OSIS di sekolahku. Oh no, kuper sekali aku sampai tidak tahu bahwa dia adalah ketua OSIS sekolahku. Hal ini membuatku tambah kagum sekaligus minder, apakah aku dapat mendekatinya. Tetapi yang namanya usaha pasti membuahkan hasil, aku dipercaya untuk mewakili sekolahku dalam karya ilmiah dan secara kebetulan, mas Dilan adalah partnerku. Pucuk dicinta Dilan pun tiba. Hehe.

“Maafkan aku dek, mas Dilan tidak bisa pacaran dek Eja, maaf,” itulah kata yang terucap dari mas Dilan dengan nada berat dan sendu. Pagi itu entah karena waktunya terlalu tepat atau akunya yang hanya keceplosan. Tepat setelah diumumkan bahwa kelompok kami mendapatkan juara pertama pada lomba karya ilmiah itu, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku kepada mas Dilan di halaman sekolah. Sepi memang, hanya ada satu atau dua orang di dekat sana, tapi aku tidak memperdulikan itu. Aku merasa, setelah lomba ini usai maka berakhirlah sudah kesempatanku untuk dekat dengan mas Dilan.

“Kenapa mas Dilan, apakah mas Dilan tidak suka sama Aku?” Tanyaku kalut, sudah kukumpulkan segala keberanianku tetapi terlampau cepat kata maaf itu terlontar darinya. “Bukan begitu dek Eja, justru bukankah kalau suka itu bermakna Aku harus menjagamu?” jawabnya kepada ku, masih dengan nada berat. “Maksud mu apa Mas?” Tanya ku bingung. “Aku tidak tahu siapa takdirku, bahkan jika kamu adalah takdirku, maka sudah menjadi tanggungjawabku untuk menjagamu dari keburukan. Termasuk keburukan dariku, keburukan yang akan terjadi jika kita berpacaran, berhubungan sebelum waktunya,” jawabnya kali ini dengan nada penekanan di akhir. Aku yang kalut hanya bisa pergi meninggalkan mas Dilan sendirian, berjalan cepat tak tahu mau kemana dan tiba tiba, “Bruk!” aku menabrak seseorang wanita dengan jilbab lebarnya. “Kamu kenapa dek, kenapa terburu-buru?” Tanya wanita itu. Begitu melihat siapa yang aku tabrak, maka tangis ini tidak bisa dibendung, “Mbak Keaaaaa”

KETIGA

Namaku Tera, sedari kecil aku selalu dapat apapun yang aku mau. Tak heran jika aku selalu terdepan dalam memenuhi barang-barang masa kini alias barang-barang yang lagi nge tren. Selain itu, kegemaranku dalam update segala info tentangku membuatku mendapatkan julukan miss Sosmed oleh teman-teman sekolahku. Bagiku itu tak masalah, karena aku juga mudah bergaul. Menurutku itu hanyalah salah satu cara bergaul saja dengan memberi julukanku kayak gitu. Sifatku yang seringkali manja dan galak barangkali membuatku sangat terkenal tak terkecuali di kalangan cowok-cowok sekolahku. Namun, karena aku sudah memiliki pacar, mungkin itulah yang membuat mereka tak banyak yang berani mendekatiku secara langsung. Pacarku adalah ketua geng di sekolahku. Tampilannya yang gaul dan sporty membuat dia gampang berbaur dan disukai oleh teman-temannya. Mungkin karena keseringan bersamanya lah kepeduliaanku terhadap orang lain juga tumbuh. Maklum dia selalu menjadi barisan pertama dalam membantu teman-temannya yang ada dalam kesulitan.

Saat ini aku sedang berada di halaman sekolahku, menunggu pacarku yang sedang bermain basket. Tiba-tiba aku tertarik pada pemandangan yang jarang bagiku. Ketua OSIS sekolahku sedang bersama dengan seorang cewek. Aku perhatikan cewek yang berada di dekat Dilan, ketua OSIS ku itu. “Oh, tau aku. Itu mah adek angkatan yang sering ngerjain karya ilmiah sama Dilan, pantesan bareng” pikirku dalam hati. Tapi mungkin namanya juga insting cewek, aku pun menyadari satu hal. Dari mata cewek itu mengisyaratkan bahwa cewek itu menyukai Dilan. Kalo dipiki-pikir bener juga sih, siapa yang tidak terpesona dengan wibawa nya Dilan. Tiba-tiba cewek itu menghentikan langkahnya tepat di depan Dilan. Sekali lagi instingku mengatakan bahwa cewek itu akan mengatakan sesuatu yang menggambarkan perasaannya pada Dilan. “Ah, mau dengerin ah, siapa tahu bisa update berita terbaru tentang Ketua OSIS, pasti heboh satu sekolah,” pikir ku sambil mendekat mencoba menguping pembicaraan mereka.

“Mas, Aku boleh bilang sesuatu ke mas Dilan?” tanya cewek itu. Aku yakin dia pasti berdebar-debar saat menanyakan hal itu. “Boleh dek, kenapa ragu-ragu, tanya aja dek,” jawab Dilan seperti biasa, tenang. Terlihat dia tengah mengumpulkan keberaniannya, dan dengan satu tarikan nafas,”Mas inget nggak saat pertama kita bertemu?” Tanya nya hati-hati. “Oh, inget Saya, pas itu di Bis kan?” Mendengar hal itu terlihat cewek itu semakin tegang dan senang. Jelas lah, cewek itu akan merasa istimewa karena Dilan masih ingat kapan merek pertama bertemu. “Nah sejak saat itu mas, Aku menyukaimu,” wah, berani sekali adek itu. “Fix, ini akan menjadi berita besar,” batinku saat itu girang.

Namun ternyata jawaban dari Dilan cukup membuatku tersentak dan terkaget-kaget. Dilan menolak dengan alasan yang menurutku aneh. Jawaban yang langsung teriang di kepalaku, “Jika kamu adalah takdirku, maka sudah menjadi tanggungjawabku untuk menjagamu dari keburukan. Termasuk keburukan dariku, keburukan yang akan terjadi jika kita berpacaran, berhubungan sebelum waktunya,” jawaban Dilan itu terus menerus berputar di otakku. Sampai ketika aku melihat cewek itu berjalan cepat menjauhi Dilan, aku pun bersimpati dan reflek ingin menghampirinya. Belum sempat aku mengejarnya, terdengar suara “bruk” dari arah kantin. Disusul dengan suara terisak menyebut nama seseorang, mbak Kea. “Oh, aku kenal dengan mbak Kea, beliau sudah senior di tingkat tiga sekolahku,” pikirku saat itu. Mbak Kea adalah mantan sekretaris Umum OSIS di jamannya. Pemikirannya yang cerdas serta sikap keibuaannya itulah yang membuatnya dihormati oleh teman se angkatannya sampai angkatan di bawahnya. Bahkan dia dipanggil “ibu” oleh teman-teman di angkatannya.

Aku melihat dari jarak yang lumayan dekat dengan bergaya seolah-olah sedang duduk-duduk di kantin seperti biasa. Mendengar percakapan mereka. “Ada apa dek Eja?” Tanya mbak Kea lembut. Kemudian Eja menceritakan semua cerita tentang kedekatan Eja dan Dilan. Mbak Kea mendengarkan dengan penuh perhatian dan tetap tersenyum. “Gimana mbak, Eja bingung, apa maksudnya mas Dilan mbak?” Tanya Eja waktu itu. Mbak Kea pun menarik nafasnya dan kemudian sedikit tertawa.”Dek Eja, masih inget pas jaman bayi nggak?” Tanya mbak Kea yang membuat Eja bingung. Eja hanya menggelengkan kepalanya. “Dulu pas bayi kita meminta untuk memegang pisau tajam dan bahkan bisa jadi memainkannya dengan gembira padahal itu berbahaya. Menurut dek Eja, apa sikap ibunya Eja?” Tanya mbak Kea. “Ibu pasti akan melarangku mbak, atau pasti segera mengambil pisau itu dariku,” jawab Eja namun dengan raut wajah tidak mengerti apa hubungan antara ceritanya dengan pertanyaan mbak Kea ini. “Nah menurut dek Eja, kenapa Ibu nya dek Eja melakukan hal itu?” Tanya mbak Kea melanjutkan pertanyaan itu dengan tersenyum.  “Kan ibuku sayang sama Eja, mbak” jawab Eja. “Nah itulah yang dilakukan oleh mas Dilan dek. Bukannya dia tidak menyukaimu atau bagaimana, akan tetapi dia tahu hubungan itu akan membahayakanmu Ja,” kata mbak Kea membuka penjelasan. “Mbak yakin Dilan faham bahwa apabila kalian menjadi pacar dan ternyata Alloh berkehendak Dilan bukan jodohmu. Maka berarti Dilan telah mengambil hak jodohmu kelak dek. Kata cinta darimu, hubungan kalian, interaksi kalian. Dan dek Eja akan memberikan cinta pada orang yang tidak tepat.” Mbak Kea menahan nafas sejenak, “Apa dek yang akan terjadi ketika memberikan cinta pada orang yang tidak tepat dek?” Tanya mbak Kea, Eja pun berpikir sejenak, “Pasti sakit ya mbak” Jawab Eja menghentikan isaknya disambut senyum oleh Mbak Eka.

Percakapan itu membuatku flashback dengan semua hubunganku dengan pacarku. Bak film yang diputar, satu demi satu episode kisah cinta ku dengan pacarku terulang. Harusnya itu semua hanya untuk suamiku kelak, tetapi aku telah mengumbarnya kepada cowok lain. “Iya kalau Adi adalah jodohku, kalau bukan kan kasihan suamiku, masak aku mau bilang bahwa dia adalah cowok ke sekian yang pernah aku suka. Nggak romantis banget,” pikirku saat itu. Kemudian ada sebuah kehangatan dalam hatiku saat ini ketika menyadari hal itu. Membuat langkahku pelan mendekat kepada mereka berdua. Tiba-tiba aku ulurkan tangan untuk menyalimi Eja terlebih dahulu kemudian mbak Kea. “Perkenalkan mbak Kea, nama saya Tera, sebelumnya maaf saya mendengar cerita kalian. Dan saya tertarik mbak, tolong ajari aku tentang Islam dan Cinta.”

KEEMPAT

Namaku Adi, dan mungkin saat ini adalah hal yang paling menyedihkan dan membingungkan untukku. Saat ini di hadapanku ada seorang gadis menatapku lekat-lekat, “Aku rasa ini sudah cukup Adi, aku ingin kita tidak berpacaran lagi!” Seorang gadis di depanku dengan penuh ketegasan yang memecah keheningan di belakang sekolah itu. “Kamu sekarang aneh! Kenapa tiba-tiba kayak gini sih Tera?” Bentakku juga tak kalah garang. Aku sekarang gantian menatap wajah gadis itu, sebuah tatapan yang sangat mengancam. Dengan kesal, aku pun meninggalkan Tera dengan perasaan panas yang menggebu-gebu.

“Adi, saya harap kamu akan tahu yang mana yang baik dan yang mana yang buruk sebelum waktunya habis,” ucap Tera lirih mengiringi kepergiaanku. Aku tak begitu peduli dengan apa yang dia gumamkan dan memilih untuk bermain basket di lapangan untuk menyegarkan pikiran. Di lapangan itu, bukannya menyegarkan pikiran, justru aku merasa sangat emosi dengan kejadian yang tiba-tiba terjadi itu.

“Wah sial bener tu cewek! Emang nya hanya dia cewek yang ada di dunia ini!” umpatku dalam hati. “Seorang Adi, jagoan basket yang dikagumi oleh cewek-cewek se sekolah, pandai membawa suasana, dan menjadi ketua geng di sekolahnya habis diputuskan oleh seorang cewek” pikir ku kesal saat itu. Perasaan kesal dan tanda tanya besar benar-benar berkecamuk dalam batinku.

Seiring dengan hembusan angin yang menyejukkan hati, tiba-tiba terdengar iqomat berkumandang dari masjid sekolahku. Saat itu, entah ada apa, aku merasakan sebuah keinginan untuk sholat. Aku melangkah kan kaki ku menuju ke masjid, lalu mengambil air wudhu ikut dalam jamaah sholat Ashar. Dalam sholat, terdapat keanehan dalam diriku. Suasana hatiku tiba-tiba berubah dan membuatku bertanya-tanya karenanya. Tentang desiran apa ini yang ada di hatiku. Desiran yang begitu menyejukkan, yang seperti sudah sejak lama aku rindukan. Entah kenapa ingin aku duduk berlama-lama di masjid sampai jamaah yang lainnya sudah banyak yang meninggalkan masjid. Di tengah kesendirianku, terbesit rasa bersalah terhadap Tera. Dalam ingatanku sedang terputar rekaman apa saja yang pernah aku dan Tera lakukan. Lama juga aku menggalau di dalam masjid.

Di tengah kegalauanku itu, aku mendengar alunan merdu bacaan Qur’an dari teman satu angkatanku, Dilan namanya. Aku mendekat kepada Dilan secara perlahan sampai aku berada tepat di samping Dilan. Dilan yang merasa ada seseorang mendekatinya lantas melihat siapa yang mendekatinya itu. “Lho, Adi ya? Assalamualaykum bro,” sapa Dilan kepadaku. “Wa ‘alaykumussalam bro, wah suaranya seger bener bro, pas banget lagi gerah gua,” kataku. “Alhamdulillah Di, kenapa kok gerah? Ada masalah bro?” Tanya Dilan tenang. Entah karena emosi memang sudah memuncak atau karena Dilan memiliki kharisma tersendiri untuk membuatku bercerita kepadanya. Aku ceritakan semuanya pada Dilan tentang pertengkaranku dengan Tera. “Huft, sudah aku ceritakan nih, duh tinggal nunggu kalo diceramahin sama Dia. Salah nih, kenapa gua cerita ke dia sih,” pikirku saat itu.

Namun ternyata justru Dilan pun mengawali omongannya dengan bercerita tentang kejadiannya kemarin dengan adik angkatan yang membuatnya juga kepikiran. “Tak kira kamu nggak bisa kepikiran tentang cewek juga bro,” kataku bercanda. “Kepikiran juga lah bro. Hehe. Justru kalo nggak malah nggak wajar bro. Dalam Islam itu, kita tidak dilarang untuk mencintai. Kamu tahu, bahwa putri nabi dan salah satu khalifah telah saling mencintai sebelum mereka menikah?” Tanya Dilan padaku. “Iya kah Lan? Sama kayak kita dong?” Tanyaku spontan. “Iye bro, tapi yang membedakan adalah, mereka faham bahwa cinta itu hal yang penting. Maka tak bisa sembarangan diumbar. Buah aja manis hanya saat sudah benar-benar matang. Cinta mereka juga, baru akan dipetik ketika telah halal bro, alias nikah,” kata Dilan padaku. “Yah, masih lama bro,” jawabku spontan.”Nah justru karna masih lama itu, Ayo kita memperkeren diri. Cowok itu Imam, sekaligus contoh pertama juga dari anak-anaknya. Masak besok yang ngajarin kita agama malah anak kita, malu bro. Hehe” kata Dilan menjelaskan. “Maka, kita sebagai cowok sekarang itu slogannya Perkeren diri lalu nikah dini bro, pantaskan diri bak Ali agar dapat pantas meminang Fatimah,” kata Dilan dengan penuh semangat. “Bener juga ya Lan, aku masih belum baik nih. Baru kepikiran kalau hubungan cinta itu sampai kita besar ding ya? Duh jadi malu aku Lan.” Kataku dengan kepala menunduk dalam. “Malu kenapa bro?” Tanya Dilan padaku. Lalu aku menceritakan bahwa aku sangatlah nakal dan sering sekali melanggar perintah Alloh. “Di, kamu tahu Umar bin Khattab?” Tanya Dilan padaku, “Tau kenapa emangnya bro?” tanyaku. “Jadilah Umar Di, semangatmu yang awalnya semangat dalam rangka menjauhi Alloh, sekarang aku yakin akan menjadi sangat keren ketika diubah untuk mendekat pada Alloh Di. Tidak ada dosa yang tidak diampuni kecuali syirik Di, aku yakin, kamu adalah orang baik,” jawaban Dilan itu membuatku seakan-akan mendapat angina segar baru. Semangat baru.

Tanpa berpikir panjang setelah itu aku langsung mengambil motorku di parkiran sekolah dan pergi menuju rumah. Aku ambil setrika rumah dan aku bawa menuju kamarku. Aku buka baju ku itu, dan terlihatlah tato naga di lengan kananku. “Ya Alloh, karena gambar inilah hamba pernah hampir menjadi penduduk nerakaMU, maka dengan gambar baru ini pulalah aku ingin mengharap ridhoMU,” kataku dengan mantap mendekatkan setrika panas itu ke kulit dimana tatoku digambar. Sakit memang tapi panas ini akan menjadi pengingat bagiku bahwa neraka pasti akan jauh lebih panas. Setelah itu aku rendam dengan air dingin, dan hari itu adalah pertama kalinya aku sholat Maghrib dan sholat Isya’ berjamaah di masjid.

KELIMA

Adi keluar dari rumahnya untuk menunaikan sholat subuh. Kali ini harus berbeda, dia bercita-cita ingin mengumandangkan adzan. Setelah seharian dia latihan, akhirnya hari ini dia memberanikan diri ingin melakukannya. Langkahnya menuju masjid dilaluinya dengan penuh kegembiraan. “Wah, ada tetangga baru yang ngeliatin aku nih, tak sapa ah. Aku harus latihan berlaku lembut terhadap orang lain nih,” pikir Adi sambil melambaikan tangan ke perempuan sebelah rumahnya itu dan melanjutkan berjalan menuju masjid.

Sesampainya di Masjid, dia melihat ada keanehan. Ada jendela masjid yang tercongkel. Kemudian bergegas Adi melihat ke dalam dan ditemukan seseorang tengah mencoba mengambil sound system milik masjid. Segera Adi berteriak dan maling itupun kaget. Akhirnya perkelahian pun tak terhindarkan. Adi sang jagoan sekolah pun tak memberi kesempatan lawannya untuk menyerang. Kemudian lawannya mengeluarkan pisau dan menancapkan pisau itu ke perut Adi. Maling yang ketakutan karena telah menikam Adi dengan pisau itu pun berlari ke luar masjid. Adi meringis kesakitan. Ada darah mengalir dari celah pisau itu.

Kemudian, ada sosok putih berdiri di sampingnya tersenyum mengucapkan salam dan Adi pun menjawab salam itu. “Ijinkan saya membawa mu pergi dari sini Adi,” kata sosok itu. Adi terdiam sejenak, sejurus kemudian dia sadar dan mengetahui apa maksud pria ini. “Baiklah tapi ijinkan aku untuk adzan terlebih dahulu, untuk pertama dan terakhir kali dalam hidupku,” kata Adi. Adzan yang menggetarkan hati orang yang mendengarnya karena sarat akan kerinduan untuk bertemu dengan Penciptanya.

Itulah Adi, efek terakhir dari lingkaran-lingkaran kebaikan, bahwa dia adalah berlian dan tetap berlian meski dahulu pernahlah ia berkubang tanah.

Dari Anas, Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih)

 

One thought on “Lingkaran-lingkaran Kebaikan

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: