Mahasiswa, Realita, dan Schizophrenia

11206127_818689914879137_1128290116530148454_nOleh: Isnan Hidayat, S.Psi. (@isnanhi /FB hidayatisnan@yahoo.com) Co-founder Cita Rasa Kebaikan Pelajar | Founder Bahtera & Baitul Ummat Foundation | Isnan adalah alumni SMA 1 tahun 2009. Setelah lulus, ia melanjutkan studi di fakultas Psikologi UGM. Ia sempat menjadi Ketua KSAI Al-Uswah setelah Yoga Hanggara (angkatan 2007).


Mungkin ini bukan lagi masanya Iwan Fals untuk bernyanyi tentang keadilan dan lagu-lagu kerakyatan. Apalagi masa-masa Soe Hok Gie untuk bericara tentang perjuangan mahasiswa melawan rezim pemerintahan. Bukan juga masanya Ronggowarsito untuk menjelaskan rancangan pemikirannya mengenai apa itu Zaman Edan. Ini masa para mahasiswa yang sibuk dengan riset-riset mutakhir, penelitian yang menggagas teori-teori mumpuni, serta perjuangan mereka untuk memenuhi tuntutan akademis yang tinggi. Tidak ada lagi istilah mahasiswa turun ke jalan, parlemen jalanan, apalagi seruan-seruan reformasi dan kritik-kritik tajam pada para pejabat yang bertugas mengelola kepercayaan rakyat. Selamat datang di dunia mahasiswa masa kini, realita pendidikan tinggi yang diciptakannya sendiri.

Dunia Mahasiswa: Mencipta Realita?

Adanya dorongan yang begitu kuat pada mahasiswa untuk menggeluti dunia akademis dengan maksimal dan menjadikannya sebagai prioritas utama lebih dari yang lain, entah tersistematis atau tidak, telah membawa kehidupan mahasiswa pada tugas-tugas pokoknya sebagai seorang konsumer sekaligus produser ilmu pengetahuan. Tentunya hal ini tidak dapat dipisahkan dari dunia riset sebagai tulang punggung ilmu pengetahuan. Tugas-tugas ini telah membentuk budaya baru dalam kehidupan mahasiswa saat ini. Budaya ini berpengaruh pada orientasi studi, orientasi kegiatan-kegiatan yang dipilih selama proses perkuliahan, masa waktu studi, hingga ke proses pengambilan keputusan pasca studi, baik untuk ke dunia kerja hingga ke keputusannya untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun secara umum, perubahan yang paling mendasar tren mahasiswa masa kini adalah perubahan orientasi studi dan apa yang mereka lakukan selama mereka duduk di bangku perkuliahan, tentang skill apa yang mereka pilih, tentang waktu-waktu yang mereka habiskan, dan tentang penelitian yang mereka jalankan.

Salah satu tugas terberat sebuah penelitian, adalah membawa keadaan yang terjadi sebenarnya, atau kita sebut sebagai realita, mendefinisikannya, merangkaikannya dengan fenomena lain, merumuskan permasalahannya, lalu mengkonduksi sebuah proses empiris untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut. Atau dalam bahasa sederhana, sebuah penelitian adalah realita-sentris: dari realita, oleh realita, dan untuk realita. Penelitian, sebagai sebuah metode empiris yang “dikultuskan” dalam perkembangan ilmu pengetahuan, hakikatnya berfungsi sebagai perumus permasalahan yang ada pada kehidupan manusia sehari-hari, pembuat solusi, dan mengimplementasikannya untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Tampaknya pengertian ini harus dikembalikan ke pengertian awalnya. Suatu pengertian yang menegaskan bahwa apapun kegiatan yang kita lakukan, tidak pernah terlepas dari realita yang kini ada, realita dalam masyarakat di sekitar kita.

Memperlihatkan Gejala Schizophrenia

Masalahnya, realita-sentris yang saat ini digandrungi dan menjadi tren mahasiswa masa kini, justru menjadi belenggu yang membuat mahasiswa menjauhi realita yang sesungguhnya, realita masyarakat di sekitar kita. Satu penjelasan unik mengenai penyakit schizophrenia tampaknya patut kita pertimbangkan sebagai sebuah penjelasan yang cukup menggambarkan permasalahan yang kita hadapi sekarang ini. Sebagai sebuah psychological disorder, salah satu kondisi terparah yang dihadapi penderita schizophrenia adalah ketika mereka mulai menyadari adanya “realita yang lain” hingga mencapai keadaan ketidakmampuannya membedakan mana realita yang sebenarnya dan “realita yang lain” itu. Ketika seorang penderita telah masuk ke dalam fase tidak mampu membedakan mana realita yang sesungguhnya dan mana “realita yang lain” itu, secara resmi penderita tersebut mengalami schizophrenia yang sesungguhnya, pikiran yang pecah, jiwa yang terbelah. Kekhawatiran terbesar yang saat ini layak untuk mulai kita pikirkan adalah tentang kondisi mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang mulai menyadari adanya realita yang lain berupa kehidupan akademisnya semata, kita yang mulai kehilangan kesadaran akan realita di masyarakat yang sesungguhnya.

Kesadaran-Kepekaan-Kepedulian Mahasiswa: Sebuah Konklusi

Tanpa bermaksud untuk menyandingkan mahasiswa dengan penderita schizophrenia, atau merendahkan saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita itu, tetapi kita benar-benar harus belajar memahami realita yang ada secara lebih bijak. Apa kita pernah membayangkan ada di luar sana seorang berusia lanjut mungkin, yang terpaksa menahan sakitnya, tidak bisa berobat karena kekurangan biaya. Ya, ia yang tidak memiliki penghasilan tetap, tinggal di kawasan kumuh, makan seadanya, dan memiliki banyak putra tidak mampu membayar biaya kesehatannya. Ya, ia yang memiliki resiko tinggi untuk sakit, harus membayar sangat mahal untuk pengobatan kanker paru-parunya. Sebenarnya sistem realita macam apa yang bekerja dalam kehidupan kita?

Contoh di atas sengaja berupa keadaan ekstrim yang dipaparkan berbeda dengan apa yang selama ini kita lihat dalam keseharian. Namun sayangnya, meski secara ilmiah belum teruji empiris, contoh di atas adalah sebuah realita. Poin utamanya: Jangan kita lupa, yang tak terlihat belum tentu tak ada, yang tak tersentuh bukan berarti sesuatu yang tidak nyata. Kita, sebagai mahasiswa, harus bisa keluar dari gejala schizophrenik akut yang membuat diri kita dibingungkan oleh realita, atau tertipu oleh sesuatu yang kita lihat saja. Hal ini bukan berarti kita harus meninggalkan ‘dunia ilmiah’ yang saat ini kita jalani, namun kita dituntut untuk lebih bijak memahami situasi. Di penghujung tulisan ini, kita bisa mengambil pelajaran dari sebuah keterangan yang dijelaskan Shaughnessy et all., dalam bukunya Metode Penelitian Psikologi: “Psikolog mengembangkan teori dan melaksanakan penelitian untuk menjawab pertanyaan tentang perilaku dan proses mental, yang jawabannya dapat berdampak pada individu dan masyarakat.” Ini saatnya kita tersadar tentang apa realita yang sebenarnya terjadi, peka pada tiap disonansi antara idealisme dan realita, dan peduli dengan berkontribusi optimal untuk masyarakat yang menunggu karya-karya kita, mahasiswa.

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: