Menengok Sikap Keberagamaan Kita

Dahulu para salaf saling berdebat tentang ilmu dan amal diiringi kedekatan hati dan ukhuwwah.

-Ibnu Taymiyyah.

Ketika kita melongok ke akun facebook masing-masing lalu melihat pro dan kontra dari status-status kita sendiri dan teman-teman kita yang beda gerakan dan harokah penuh caci maki, saling melempar sindirian dan jauh dari sikap ilmiah berarti ada yang salah dengan ukhuwah kita. Sebenarnya boleh tak sependapat atau tetap berbeda namun tanpa mencela dan tetap santun. Di era sosial media yang informasi serba cepat seperti ini kita cenderung reaktif dan berpikir cekak serta tergoda untuk memberi komentar secepatnya tanpa harus berpikir matang.

Saya mencoba merenungi fenomena yang terjadi di dunia maya tersebut, mengapa teman-teman melakukan reaksi saling sindir, menjurus pada celaan bagi sikap keberagamaan yang berbeda dari apa yang dianut. Saya mengembalikannya pada proses pendidikan kita semasa kurun waktu SD, bagaimana kita didorong untuk belajar dan dilatih dalam suasana kompetisi dibanding kolaborasi. Saya masih ingat betul ketika SD mempunyai kelompok belajar bersama teman-teman, suatu saat ada satu orang teman yang rankingnya berada di papan atas berkeinginan gabung, saya mengizinkannya tapi teman-teman kelompok belajar saya bilang “Kok dia diizinkan gabung sih, nanti dia lebih pintar dan mengungguli kita”. Ya, iklim persaingan; bukannya kerjasama. Iklim tersebut menghasilkan manusia yang egois, merasa benar sendirian selainnya salah, dan sifat ujub dalam diri.¬† Sifat tersebut lalu terbawa dalam sikap keberagamaan kita. Merasa lebih paham, bangga diri, tidak mau dilampaui, benar sendiri, ingin menang.

Dalam agama ini ada hal yang tetap tapi juga ada hal yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat yang kita harus belajar lapang dada dan longgar. Maka Said Nursi dalam konsep pendidikannya merumuskan tiga hal pokok yaitu pendidikan ilmu umum (ilmu pengetahuan alam, matematika dll.), Ilmu agama (fikih, dll), dan tazkiyatun nafs (akhlak dan pembersihan hati). Sebenarnya tazkiyatun nafs bisa dimasukkan di bagian ilmu agama namun karena pentingnya bahasan ini maka harus disendirikan agar menjadi perhatian khusus.

kesabaran harus dilatih dan kasih sayang harus diasah. Itulah bagian pendidikan etika, moral, akhlak, tazkiyatun nafs.

Wahb bin Munabbih rahimahullahu ta’ala berkata:

“Ada tiga hal yang berasal dari ilmu: Kehati-hatian yang menghalangi seseorang dari perbuatan maksiat, budi pekerti yang digunakan untuk bersikap baik kepada orang lain, dan kesantunan yang digunakan untuk membalas kejahilan orang jahil.”

[ Hilyatul Auliyaa’, al-Hafizh Abu Nu’aim, 10/47 ]

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: