Mengutuki minat baca kita

perpus-ms-dalton

Sesungguhnya aku ingin menceritakan bahwa aku tidak pernah kenyang membaca buku. Apabila aku melihat sebuah buku yang belum pernah aku lihat, maka seakan-akan aku berada dalam gudang harta yang sangat berharga.”-Imam Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khathir.

Dalam suatu kajian, Ustadz Fauzil Adhim pernah bertutur bahwa indeks minat baca di Indonesia berada pada angka 0,001. Dapat disimpulkan dalam lingkup 1000 kepala hanya ada satu kepala yang memiliki minat baca. Padahal program pengentasan masyarakat dari buta aksara terus meningkat, semacam terjadi paradoks. Membaca tidak hanya membutuhkan kemampuan motorik, lebih jauh membaca adalah aktivitas yang melibatkan kesadaran mental dan motivasi.

Bagi seorang muslim kegiatan membaca tidak hanya perilaku mengeja aksara saja namun salah satu proses mengangkat kebodohan dan membuka gerbang-gerbang pengetahuan. Selain itu yang lebih asasi, membaca adalah bentuk pengamalan dari ayat yang pertama turun dari Al Qur’an. Tradisi membaca adalah salah satu tonggak dari budaya ilmu, sedangkan budaya ilmu adalah poros dari tegaknya suatu peradaban. Kita perlu cermat, bahwa tidak ada peradaban di dunia ini yang bangkit tanpa masyarakatnya akrab dengan ilmu.

Tengok peradaban Islam di generasi awal. Mengutip dari buku Pendidikan Islam karya Dr. Adian Husaini, Tradisi baca dan tulis-menulis begitu hidup dalam masyarakat, yang sebelumnya didominasi tradisi lisan. Tiap ayat Al Qur’an turun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada sahabat dekatnya untuk menulis. Bahkan tradisi membaca dan menulis ini menjadi simbol kemuliaan seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan pelajaran baca tulis sebagai tebusan tawanan Badar.

Yuk, mulai saat ini jangan sepelekan kegiatan membaca yang terlihat sangat sederhana. Membaca buku yang relatif tebal dapat mengasah laku sabar dan agar nalar kita tertata untuk memilah hal-hal yang bermanfaat di era banjir informasi dari berbagai media sosial. Proses informasi yang cukup deras berganti-ganti bahasan yang dimuculkan media sosial menjadikan manusia cenderung berpikir cekak. Daya kekritisan pun kita tanggalkan karena mudah tergoda untuk memberi komentar pada setiap kabar yang muncul. Tak jarang cap “sumbu pendek” pun kita terima.

Untuk mendongkrak semangat baca kita, saya paparkan contoh dari dua tokoh dunia Islam kontemporer. Pertama, Prof. Wahbah Zuhaili penyusun kitab al Fiqh al Islam wa adillatuhu  dan tafsir al Munir beliau membaca dan menulis dalam sehari tidak kurang dari 16 jam. Kedua, Mohammad Natsir seorang tokoh Masyumi dan pernah menjabat sebagai perdana menteri. ketika muda, Natsir menjadi anggota perpustakaan dengan bayaran tiga rupiah sebulan (di masa itu). Setiap buku baru yang datang, Natsir selalu mendapat kiriman dari perpustakaan. Menjelang akhir hayatnya, tidak kurang dari tiga tafsir Al Qur’an yang beliau kaji. Itu bukti kegemaran beliau membaca buku.

Ada beberapa tips yang bisa dicontoh dan dapat juga dimodifikasi agar kita akrab membaca. Pertama, Kita harus menjadikan aktivas membaca buku adalah suatu kebutuhan dan terus menguatkan komitmen mencari ilmu. Kedua, kita memasang target dalam sebulan untuk menghabiskan berapa buku, lalu kita sederhanakan per hari kita harus menyelesaikan berapa halaman misal empat puluh halaman. Tiga, Tentukan tema buku yang menjadi kebutuhan kita (buku yang bermanfaat untuk kepentingan akhirat dan dunia kita). Jika tetiba sedang mengalami kelesuan, selangi dengan membaca buku yang ringan dan tipis semisal kumpulan sajak puisi atau novel yang bergizi dan sebisa mungkin jangan berhenti untuk membaca. Membaca buku yang berbobot memang butuh ketahanan dan kesabaran, tetapi nikmati saja. Saran agar mengefisienkan waktu yaitu bacalah tanpa diikuti gerakan mulut.

Bagi mukmin hal yang utama dan urgen untuk dibaca dan dipahami adalah Al Qur’an karena kitab tersebut merupakan kalam Allah dan pedoman hidup kita. Untuk mengetahui maksud dan tujuan setiap ayat mari merujuk pada kitab-kitab tafsir yang otoritatif. Prof. Yunahar Ilyas pernah memberi pesan bahwa sebaiknya setiap keluarga minimal mempunyai satu set kitab tafsir Al Qur’an.

“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar -benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. (Q.s. Al Hadid: 9).”

“dari kegelapan kepada cahaya” maksudnya, dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju cahaya ilmu dan iman. (Tafsir Taisir Al Karim Ar Rahman, Syaikh Abdurrahman As Sa’di). Kita berharap generasi selanjutnya bukan pengidap tunabaca dan itu dimulai dari angkatan kita. Mari membaca, hidupkan literasi.

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: