My Hijrah My Adventure

Jangan kau cari aku di masa lalu,

karena aku sudah tidak disana lagi

Bulan Muharram memang telah berselang, di bulan tersebut kata “hijrah” menjadi kata yang sering didengung-dengungkan oleh para khatib di mimbar-mimbar ataupun ceramah ustadz-ustadz di majelis ilmu yang mereka ampu. Bagi anak muda, kalimat “My Hijrah My Adventure” turut lekat dalam memaknai bulan ini dalam bentuk gambar unik dan persuasif yang tersebar di seantero dunia maya. Meski sekarang sudah terlewat, hijrah tetap bisa dilakukan kapan pun, tidak harus menunggu momen tertentu

Hijrah. Secara etimologi, kata ini berarti meninggalkan sesuatu; dan menurut istilah syari’at (terminologi), artinya meninggalkan apa yang dilarang Allah Swt.. Dalam sejarah Islam, ada dua macam hijrah yang pernah terjadi: (1) perpindahan dari satu tempat yang menakutkan ke tempat yang aman, sebagaimana terjadi pada dua hijrah: hijrah ke Habasyah dan awla mula hijrah dari Makkah ke Madinah; (2) perpindahan dari negeri kafir menuju ke negeri Islam, sebagaimana terjadi setelah Rasulullah Saw. menetap di Madinah (Bahjatun Nadzirin syarah Riyadhush Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali)

Hijrah melingkupi hijrah secara fisik yang berarti berpindahnya seseorang dari negeri menakutkan (darul harb) menuju negeri yang aman atau dari negeri kafir menuju negeri Islam. Hijrah juga terkait dari bepindahnya pandangan hidup. Dari pandangan hidup sekular, liberal, plural dan hedonis menuju kepada pandangan hidup Islam (taat, adil dan penuh ilmu).

Lalu apa langkah untuk melakukan hijrah? Pertama, menguatkan komitmen untuk berubah menjadi lebih baik dan membulatkan tekad untuk senantiasa konsisten (istiqomah). Kedua, memperbanyak bekal berkaitan dengan ilmu syar’i yaitu dengan menghadiri majelis-majelis ilmu dan membaca karya para ulama dan ustadz. Ketiga, yang namanya hijrah pastinya kita mengubah pula pergaulan atau lingkungan. Carilah teman-teman yang shalih dan unggul dalam melakukan amal kebaikan.

Tujuan kita berhijrah adalah agar kita dapat menyelesaikan masalah-masalah atau sifat-sifat buruk di masa silam dan konsisten dalam melakukan kebaikan yang akhirnya Allah ridha dan menempatkan diri kita di Surga-Nya. Tentu dalam proses berhijrah ini tidak sedikit yang mengalami hambatan atau rintangan. Bisa jadi malah dari orang-orang terdekat sendiri seperti keluarga atau teman-teman. Namun yakinlah, jika niat hijrah kita benar karena Allah, Allah akan menolong hamba-Nya yang bertaqwa. Ingat pula ungkapan Imam Syafi’i ini “Bukan karena aku tidak bisa membalas orang-orang yang mengejek namun bukan tabiatnya singa melayani gonggongan anjing”. Jadi, tidak perlu menanggapi nyinyiran orang yang mencela tetap fokus untuk komitmen pada kebaikan dan konsisten. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Allah dalam salah satu Asmaul Husna bernama As-Sittiir adalah Yang Maha menutupi (aib) hamba-hamba-Nya, Dia tidak membongkar keburukan di khalayak ramai, Dia malu dari membuka kesalahan hamba-Nya. Rahmat-Nya mendahului kemarahan-Nya.

Bagi orang yang sudah lebih dulu menerima hidayah disuruhkan atau diajarkan mencintai orang-orang yang berhijrah sesuai dalam ayat ke-sembilan Surah Al Hasyr. Berhentilah menghakimi masa lalunya. Karena dulu, ketika Umar bin Khattab berhijrah menuju Islam, tidak ada sahabat yang mengatai Umar dengan kata-kata semisal, “Mar, inget nggak dulu kamu pernah gini, gini.” 

Mari doakan orang-orang yang sedang berhijrah agar tetap istiqomah, diteguhkan tapak-tapaknya meniti jalan yang lurus. Hijrah adalah berbenah dan memperbaiki diri, simbol titik balik menuju kemenangan. Bagi mbak-mbak yang dulu belum pakai jilbab dan sekarang sudah berjilbab syar’i, kewajiban kalian sekarang adalah memperdalam ilmu agama bukan memperbanyak model jilbab (hehe).

 

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: