Pesan dari Bu Ndari

Seperti biasanya, aku tengah mendengarkan pelajaran sambil sesekali menengok ke bawah dari jendela. Entah mengapa, melihat pepohonan dan orang-orang berlalu lalang di depan Aula Katamso itu “Romantis” bagiku. Syahdu.

Sudah menjadi semacam takdir bagiku, satu di antara 29 siswa di kelas XI IPS di SMA itu, untuk menjalani sebagian besar hari di ruang 207. Ruangan ini sebenarnya lebih luas dari beberapa ruang kelas lainnya, hanya saja meja-kursinya – yang selalu membuatku merasa kesulitan bergerak itu – lebih besar dan berat daripada bangku di kelas lainnya. Meja-kursi ini jadi satu paket, tersambung dalam satu rangkaian. Akibatnya, susah sekali menyesuaikan posisi duduk. Untuk dipindah pun susah karena berat.

Temanku yang anggota “Jogja Blade Community” waktu itu (kudengar sekarang dia sudah keluar dari jbc bersebab motornya ganti jadi y*maha jupiter) menemukan bahwa meja yang biasa ia pakai memiliki semacam lubang yang tersambung sebuah ruang kosong yang terpisah dari laci meja tersebut. Lubang ini ia “manfaatkan” sebagai ganti tempat sampah. Aku kadang membayangkan bagaimana jadinya kalau sampah-sampah itu sampai memenuhi ruang kosong pada meja tersebut. Canggih nian.

Di bagian belakang ruang itu, ada lemari yang penuh dengan karya para siswa IPS yang dibuat dari tanah liat. Semacam sculpture, bedanya lebih banyak yang sukar ditebak wujudnya, sebab sudah pada “cuwil.” Di bagian depan kelas, ada meja guru dan sebuah mimbar orasi yang hanya dipakai oleh Pak Didik, guru sejarah kami.

Di siang itu, Bu Ndari sedang mengajarkan matematika. Kalau tak salah materinya sekitar permutasi-kombinasi dan peluang. Sebagaimana style seorang anak kelas XI, saat itu aku mendengarkan pelajaran namun kadang juga disambi memikirkan hal lainnya. Hingga tiba-tiba di tengah kelas Bu Ndari menyampaikan sesuatu yang membuat saya agak kaget juga.

“Alhamdulillah, di kelas ini,” demikian kata Bu Ndari, “Semuanya sudah bisa menikmati matematika.”

Kalau kalimat beliau berakhir begitu, cerita ini tak akan begitu berkesan bagiku. Hanya saja kalimat itu masih berlanjut:

“kecuali Haidar ya.”

Sambil tersenyum kecut, aku berpikir: What? Really? Apa kesalahan yang telah kulakukan? Bukankah teman-teman juga sering melamun di tengah pelajaran? Kenapa namaku yang disebutkan?

Setelah hari itu, tidak banyak perubahan yang kulakukan, selain mengingat kejadian itu. Aku hanya berusaha untuk lebih memperhatikan guru di setiap pelajaran. Haha, kejadian itu aku ingat-ingat sambil tertawa saja.

Tahun berlalu demikian cepatnya, Sebagaimana masa SMA selalu berharga sebab waktu singkatnya. Kini aku sudah kelas 3. Sudah menyalakan saklar “sinau” mode. Matematika pun kupelajari lagi dengan lebih serius. Sampai Alhamdulillah di persiapan UN nilaiku cukup bagus. Saat kelas tiga itu, guru matematika di kelas XII IPS sudah bukan lagi Bu Ndari dan Bu Karsini. Di kelas 12 gurunya adalah Pak Ratno dan Bu Murni. Hanya saja, kadang-kadang aku masih berpapasan juga dengan Bu Ndari. Saat berpapasan itulah, pesan beliau yang mengena itu, sampai ke hatiku.

Di suatu siang, di depan tangga gedung sayap barat, aku berpapasan dengan Bu Ndari. Sebagaimana siswa SMA 1 yang berusaha sederhana, rendah hati, dan rajin menabung (hihi), aku mengangguk sebagai tanda ta’zhim murid pada gurunya. Bu Ndari ternyata kemudian menyapa.

“Alhamdulillah, Haidar sekarang nilainya mendingan ya,”

“Hehe, iya Alhamdulillah bu,”

“Begitulah, le, Matematika itu dipelajari bukan untuk semata-mata dikuasai.”

Maksud beliau sepenangkapanku adalah, Banyak yang bilang belajar matematika itu sia-sia, soalnya trigonometri dan kawan-kawannya itu nyatanya tidak akan banyak kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Tetapi….

“Belajar matematika itu berarti, belajar ketelatenannya, kecermatan, dan ketelitiannya.”

Ini. Inilah hikmah yang sejak dulu kutunggu dari para guru. Sebab puluhan tahun mereka mengajar, pastilah pelajaran kehidupan itu dimiliki sedemikian banyaknya.

Guru adalah guru kehidupan. Sebab,  kalau para guru hanya murni mengajarkan mata pelajarannya, menjadikan silabus saja sebagai pedomannya, dan menggunakan ujian saja sebagai indikator keberhasilannya, maka pada siapa anak didik mereka belajar kehidupan?

Apakah pada televisi? Atau pada Netizen dan komentar-komentarnya yang membara pedasnya? Atau pada youtube? Seharusnya jawabannya adalah pada orangtuanya, namun, kenyataannya hari ini banyak  juga orang tua yang memasrahkan sepenuhnya pendidikan anak mereka pada sekolah. Sehingga tugas mereka dalam mendidik berkurang menjadi sekedar membiayai pendidikan.

Wahai para pelajar adab dan ilmu! Mari kita bersabar dalam belajar!

***

Suatu kali ku katakan pada Syekhku:

“Aku telah membaca sebuah kitab dan tidak ada yang nempel di ingatanku!”

Beliau menyodorkan padaku sebiji kurma dan berkata: “Makanlah!”

kemudian bertanya padaku: “Apakah sekarang kamu sudah besar?”

kujawab: “Tidak”.

Beliau berkata: “Tetapi kurma itu telah terbagi dalam tubuhmu; menjadi daging, tulang, syaraf, kulit, rambut, kuku, sel-sel!”.

Aku sadari bahwa suatu kitab yang ku baca terbagi-bagi, memperkuat bahasaku, menambah pengetahuanku, memperbaiki akhlakku, meninggikan gaya bahasaku dalam penulisan & pembicaraan, meskipun aku tidak merasakannya.

 

Dari sebuah status FB, yang tidak kutahu benar sumbernya.

3 thoughts on “Pesan dari Bu Ndari

  • Saya dulu juga berpikir begitu waktu SMA. Kurang tertarik dgn trigonometri & kalkulus krn tidak terbayang aplikasinya. Alangkah baiknya jika pesan tsb disampaikan di awal pelajaran saat kita masih jadi siswa baru 😀

  • Ucapan senada pernah diberikan ketika beliau sedang mengajar pmkt, meskipun belum pernah mengajar sebagai guru mata pelajaran di kelas
    Barakallahu fiha

  • bu ndari ya.. beliau memang selalu berusaha memandang sesuatu dengan lebih bermanfaat, aku agak menyesal krn tidak memikirkan nasehat2 beliau semasa sekolah.

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: