Prolegomena to KSAI Al-Uswah

Sejarah singkat

KSAI Al Uswah berdiri pada tanggal 28 Muharram 1412 yang bertepatan ada 9 Agustus 1991 di Yogyakarta. Organisasi ini didirikan oleh sekelompok anak muda alumni SMA 1 Teladan Yogyakarta lulusan tahun 1990. Mengapa dinamai KSAI Al Uswah? Nama ini muncul karena memang aktivitas inti organisasi adalah kegiatan ala kelompok studi. Jadi, inheren dengan corak dan format kegiatan-kegiatan awal yang membidani gagasan kelahirannya.

Organisasi ini dilahirkan berkat aktivitas “kumpul-kumpul tapi mikir.” Untuk mengakomodasi kegiatan lainnya yang tidak lazim dilakoni oleh sebuah kelompok studi, maka kemudian ditambah menjadi Kelompok Studi dan Amaliyah Islam. Tidak sekedar kelompok studi saja tetapi menjadi kelompok studi plus, itu yang menjadi harapannya. Plus dalam arti ada amaliyahnya, cakupan kegiatannya dan yang pasti, dalam kuantitas jumlah anggotanya yang terdiri atas Muslim Alumni SMA 1 Yogyakarta.

Melalui KSAI Al Uswah, tradisi keilmuwan dan pemikiran dicoba digairahkan tetap dalam kerangka ibadah. Bukan saja karena anggota aktifnya yang terdiri atas para mahasiswa muslim, tetapi juga karena kesamaan cita-cita dan semangat ukhuwah yang telah terbina sejak masa SMA. Bagai dipertemukan oleh “jari-jemari” Allah, ukhuwah itu berlanjut ketika alumninya telah tersebar ke berbagai fakultas dan Perguruan Tinggi. Tentu organisasi ini bukan didirikan sebagai pelampiasan romantika SMA. Ataupun juga eksklusivitas dan primordialisme sempit, karena hanya menghimpun alumni SMA tertentu saja. Justru dari sanalah, alumni SMA 1 Yogyakarta diberi kerangka bahwa “dunia lain” (kampus masyarakat) tetap menanti peran aktifnya. [1]

***

13329350_1319386324744568_1562101635261094134_o

Pengantar

“Berbakti kepada guru. Menjadi kakak yang baik. Menjadi sahabat yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Maka dari ketiganya itulah, kita sebut; kebermanfaatan.”

Tiga tahun telah berlalu, saat masa-masa itu telah kita lalui. Ketika merasakan segala hal dan pernak-perniknya sebagai pemakai seragam putih abu-abu. Di mana masa itu kita ditempa, digurui, dilatih, dibimbing hingga akhirnya keadaan yang lebih baiklah yang kita temui. Saat dahulu kita tak mengerti pentingnya menuntut ilmu, bapak ibu guru bersabar mengajari kita. Saat dahulu kita tak mengerti arti kehidupan sebakda SMA, kakak-kakak alumni yang baik, dengan ikhlas mengorbankan waktunya untuk kembali ke sekolah untuk membimbing kita. Saat kita hanyut dalam nuansa kesendirian di tengah keramaian, para sahabat datang menemani dan menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Begitulah manfaat besar yang diterima, seorang anak adam yang beruntung bersekolah di SMA Negeri 1 Yogyakarta.

Belakangan kita tahu, bagaimana beratnya perjuangan, derasnya keringat yang mengucur, waktu yang dikorbankan, harta benda yang diikhlaskan kakak-kakak alumni yang hadir menemani kita dahulu. Kita mengira, kakak-kakak adalah orang yang tidak punya teman di kampusnya, orang-orang yang tidak punya kegiatan (kita sering sebut “selo”), pribadi-pribadi yang masih hanyut dalam romantisme masa lalu yang masih terlalu melekat, atau orang-orang yang hanya iseng-iseng bermain dan menengok sekolah yang telah kita tinggal.

Sebab kini, tiga tahun telah berlalu. Kini tibanya kita menjadi seorang kakak. Telah tiba waktunya kita beranjak tempat meninggalkan “rumah” yang telah kita tinggali. Kita akhirnya mengerti, tidak mungkin seseorang yang dahulu kita kenal tidak memiliki teman di kampusnya, bukankah kita hari ini punya banyak teman di kampus? Akhirnya kita juga merasakan, bagaimana sibuknya para mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik dan non akademik, bukankah kita sekarang sedang menjalani? Kita pun memahami, betapa banyak hal baru yang ditawarkan di sana, bukankah tiap orang pasti senang dengn hal-hal baru? Dan akhirnya kita tahu, mereka bukan orang-orang yang hanya sekedar iseng.

Merekalah hadiah istimewa yang diberikan Allah kepada kita semua. Mungkin, saat kita tanya kepada mereka, “bagaimana cara membalas jasamu kak?”. Maka mungkin, jawabnya adalah jadilah lebih baik daripada kami, temani adik-adik dengan lebih baik.

Soal ketakutan kita, tentang “apa tidak mengganggu kegiatan akademik di kampus, saat tidak sedikit waktu yang harus kita luangkan untuk kembali ke SMA? Apa tidak terganggu kuliahnya? Apa tidak terganggu kariernya?”

Beliau, salah seorang Teladan kami, Mas Isnan Hidayat teladan 2009, sering menjelaskan kepada kami,

“Ingat tidak dik dahulu kita sering membahas ayat ini?

Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Surat Muhammad ayat 7.”

“Iya bang, ingat.”

“Yakinilah, bahwa janji Allah itu pasti. Dialah Dzat yang tidak pernah mengingkari janji.” [2]

 

Dan tanpa menjelaskan dengan detail lagi, kami mengerti. Sebab belakangan kami mendapat berita, “Isnan Hidayat, pemuda, kelahiran 17 Agustus 1991 yang menjadi lulusan terbaik fakultas psikologi UGM angkatan 2009, dengan IPK 3,94.”. Padahal, minimal tiga kali dalam sepekan beliau datang ke SMA, menemani dan membimbing kami dalam kegigihannya dan kesabarannya. Sebab beliau, mengampu setidaknya yang kami tahu, tiga kelompok mentoring. Satu kelompok 2012, satu kelompok 2013, satu kelompok 2014. Saat itu pun beliau, menjadi ketua KSAI Al-Uswah, yang tentunya pun tidak sedikit pikiran dan tenaganya yang harus dikerahkan untuk memimpin lajunya organisasi.

“Aku dulu kelas IX menjadi ketua umum POH, ketua umum SCOUT, ketua 1 GVT. Ternyata, rangking yang kuperoleh 5 besar di kelas, lebih baik dari pada ketika kelas 1. Soyo sibuk malah soyo pinter.”

***

Bukan kesibukan yang telah melelahkan kita dalam belajar, tetapi adalah kemalasan yang menguasai diri kita. Jangan pernah mengambinghitamkan aktivitas-aktivitas kebaikan kita atas ketidakberdayaan kita dalam mengatur diri kita sendiri.

Sebab tidak pernah ada nasihat, “dalam kemudahan terdapat yang lebih berkemudahan”, karena kemudahan terlalu sering menyebabkan kemalasan. Akan tetapi telah disampaikan kepada kita, “di dalam kesulitan ada banyak kemudahan, di dalam kesulitan ada banyak kemudahan.”

Sumber:
[1] Hanif, Zainuri. 2008. “KSAI AL USWAH Menurut Sejarah, Menggagas Masa Depan”.https://zainuri.wordpress.com/2008/02/24/ksai-al-uswah-menurut-sejarah-menggagas-masa-depan/. Diakses pada tanggal 25 Februari 2014, pukul 13.01 WIB.
[2] Diskusi intelektual langsung dengan beliau.

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: