Selamat Datang, Bintang!

Siang itu, basecamp POH cukup ramai. KBM baru saja selesai, tapi teman-temanku sepertinya sedang semangat. Sambil menunggu rais ‘amm datang, di sebelah tirai hijau yang kami sebut hijab ini, aku mendengar beberapa teman akhwat mulai mengobrol.


“Udah ketemu dek Hanifah? Adeknya keren! Orangnya ramah banget, kelihatan dewasa saat sama temen-temennya, aku lihat dia juga sempat tilawah di Al Uswah istirahat kemarin.” Kata sebuah suara.

“Mau masuk mana ya adeknya?” Temannya menimpali. Kemudian temannya yang lain berdeham lucu lalu berkata,

“Dek Hanifah adik pansusku. Katanya tertarik ke POH atau PH OSIS, dulu pas SMP juga sudah pernah jadi ketua OSIS.”

“Ooh…” yang lain serentak menjawab, tampaknya langsung paham.

Ingatanku kembali ke masa setahun yang lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini untuk daftar ulang. Saat menunggu giliran, aku duduk sendirian membaca buku yang kubawa.

“Assalamu’alaykum, dek.” Tiba-tiba sebuah suara menghampiriku, seorang lelaki dengan seragam putih abu-abu dan jas yang membuatnya tampak rapi dan senyum sumringah di wajahnya.

“Wa’alaykumussalam, kak..” Aku buru-buru berdiri sambil malu-malu membalas senyum. Kami kemudian mengobrol, beliau bertanya buku apa yang sedang kubaca.

“Wah, kayaknya bagus. Suka mbaca ya? Bisa tuh nanti masuk klub pecinta baca atau jurnalistik. Oiya, ini ada pembatas buku, ambilah.”

“Buat saya mas?”
“Iya, semua juga dapat.”
“Makasih mas!” Aku meraih sebuah pembatas buku yang terbuat dari kertas doff berukuran sekitar 5 x 12 cm. Desainnya tampak sederhana, di bagian depan ada potongan foto gerbang sekolah, kubah masjid, dan perpustakaan. Lalu di bagian bawahnya ada lambang segi enam yang belum kumengerti. Di bagian belakang aku membaca sebuah puisi yang dicetak dengan huruf kecil-kecil.

“Selamat datang bintang
Selamat bergabung dalam nuansa Teladan Darussalam –rumah keselamatan, insyaAllah
Wahai bintang..
Bersiaplah untuk menempuh sebuah proses di tempat singgahmu kali ini.
Bersiaplah untuk melihat, mendengar, dan berfikir.
Mari buka mata, telinga, dan hati
Melihat lebih dekat pesona Al-Islam
Menjadi pelita di gelapnya malam
Membangun gugusan bintang indah dengan rajutan tali ukhuwah
Gugusan bintang yang saling melengkapi,
bak pesona pelangi yang menawan dengan warna-warninya
selamat bergabung bintang
bersiaplah tuk pancarkan cahaya dari hatimu
karena setiap bintang punya cahaya yang berbeda.
Selamat bergabung wahai insan pilihan :)“

bintang

Puisi yang sederhana tapi mengena bagiku. Aku bahkan mencatatnya ulang. Aku kemudian ingat sebuah scene di awal-awal masuk sekolah dan mengikut program Salam Awal Al Uswah. Seorang senior yang lagi-lagi belum kukenal menghampiriku.

“Kamu Fikri kan? Yang novelis itu kan? Dek, besok datang openhouse POH ya!” Aku cuma bisa mengangguk dan tersenyum kecil, lagi-lagi berpikir dari mana kakak kelasku itu tahu nama dan hobiku. Aku memandangi brosur yang ia serahkan padaku, kali ini lambang yang sama dengan yang ada di pembatas buku berukuran lebih besar dan disertai tulisan “POH Rohis Al Uswah”.

“Duh fik! Enak banget sih kamu cuma bantu desain poster. Bantuin kita dong angkut perlengkapan ke aula. Capek ni..” Temanku Bagas membuyarkan lamunanku.

“Hus, kerjaan Fikri juga penting! Sini tak bantuin, tak panggilin temen-temen yang lain juga. Tapi kamu harus semangat dong, Gas!” Belum sempat aku menjawab,Farhan, rais amm kami menimpali. Aku tidak sadar ia sudah tiba di basecamp.

“Uh, lagian pakai dobel-dobel. Wis ana kajian, gawe forum pendampingan..” Bagas masih menggerutu.

“Lho, gini lho Gas, kajian itu penting buat bekal ilmu dari ustadz, tapi pendampingan sama kita sebagai mas-masnya juga perlu. Kita yang memastikan adek-adek memahami maknanya dengan benar, gimana cara mengaplikasikannya sehari-hari, sampai mungkin hambatannya kok belum bisa mempraktekkan. Lha kamu nggak mungkin cerita semua masalahmu ke ustadznya di depan panggung kan?” Kata Farhan lagi.Bagas tampak berpikir sambil duduk sebentar sebelum ia menjawab.

“Bener juga ya Han. Oke siap lah, yo kerja lagi!”

“Fikri, kamu belum ngopi data ‘Who Am I’ adek-adekmu kan, ini udah aku print.” Farhan kemudian beralih sebentar padaku.

“Wah iya kok lupa, makasih Farhan.” Farhan tersenyum sambil menaikkan alisnya. Mereka kemudian pergi. Aku menatap lembaran-lembaran yang diberikannya padaku. Aku tersenyum dan bergumam dalam hati, “ini dia rahasianya. Tak terasa giliranku memainkan peran itu datang juga.”

***

Sore itu, di depan basecamp yang sedang sepi. Kami duduk melingkar santai, mengambil pojok yang paling tidak terlihat dari aula.

“Dek, ingat puisi di pembatas buku dari POH tahun lalu? Bagus ya?” Tanya Mas Luqman, mentor kami bertujuh.

“Iya, selamat datang bintang..itu ngena sekali mas. Sekarang dibikin lagi kok..” Jawab Farhan.

“Bukan hanya mengena, dek. Tapi filosofis juga. Kenapa ‘bintang’?” Tanya Mas Luqman lagi.Ma’ruf temanku tiba-tiba bangkit dari sandarannya.

“Aku tahu mas! Bintang kan pusat tata surya. Dia punya sinarnya sendiri. Tapi terbentuknya juga butuh proses panjaaang lho… Singkatnya, berawal dari protostar, gumpalan awan debu dan gas, hidrogen, helium yang lalu akanberkontraksi ke inti karena gaya gravitasi. Lama-lama akan timbul energi panas, dan sampai pada kepadatan tertentu di inti akan terjadi reaksi fusi nuklir..”

“Haha..iya deh, yg olim astro udah ngomong. Tapi bener banget, memang harus ada yang mereaksikan kan..termasuk gaya gravitasi.” Farhan menimpali sambil tertawa, mengirim kode yang mengingatkan kami pada sebuah program orientasi siswa khas sekolah kami yang baru dua pekan lalu selesai.

“Hehe, iya, dan karena memang adek-adek akan jadi bintang, pusat perhatian. Bahkan buat kita kakak-kakaknya. Gimana kita membantu mengarahkan semua potensi mereka untuk kebaikan. Gimana terus dengan Islam mereka bisa memberi banyak manfaat buat angkatannya, buat Teladan, buat Indonesia. Soalnya, untuk membenahi banyaknya masalah di Indonesia sekarang ini, susah kan kalau mau mengubah jalan pikir semua orang dewasanya; salah satu yg bisa banget kita lakukan itu membina generasi penerus, anak-anak mudanya. Plus, biasanya kan memang yang lebih muda yang paling semangat, yang masih banyak energinya. Kalau ingat kisah Nabi Musa as, beliau dulu juga masih muda saat menghadapi Fir’aun, Nabi Daud juga saat menghadapi Talut, Shalahudin Al-Ayyubi, dan masih banyak lainnya, bahkan golongan pemuda yang menuntut proklamasi, dan reformasi. Yang idealisme-nya masih kuat, yang punya keberanian. Mereka yang akan selalu jadi tonggak perubahan bangsa..” Mas Luqman menjelaskan dengan gayanya yang santai tapi semangat.

“Setuju mas!” Farhan mengepal-ngepalkan tangannya.

“Aku ndak setuju. Kok ‘mereka-mereka’ terus Mas…’kita’ juga dong.. kita kan masih muda.. kecuali mas Luqman sudah merasa tua…hahaha.” Kali ini temanku Pram yang gini-gini salah satu ketua MPK menyela, disambut tawa kami semua.

“Hahaha iya maap. Bukan masalah umur kok, masalah pikiran dan tindakan…yang selalu melampaui zamannya!” Tukas mas Luqman. Aku mengangguk-angguk setuju.

***

Masa SMA memang terkenal sebagai masa-masa yang takkan terlupa seumur hidup, masa-masa yang penuh cerita gokil tentang persahabatan dan cinta (ehm..). Masa-masa menjelajah dan menemukan banyak hal baru bersama para kanca.. karena bukankah aku dan engkau tiba di masa pencarian diri yang sejati?

Tapi justru karena itu, coba engkau renungkan lagi kawan.. Masing-masing kita juga akan menghadapi bermacam tantangan hidup di depan. Kita pasti butuh banyak bekal.

Dan di sini, di sekolah ini, ada yang berusaha menyadarkan kita akan tanggung jawab besar yang kita miliki itu. Bahwa kita adalah harapan orangtua, harapan orang-orang sekeliling, harapan bagi pendidikan bangsa, dan harapan bagi perubahan di tiap sudut negeri kita kelak.
Ada yang berusaha menyadarkan kita, bahwa kita takkan memiliki kesempatan yang lebih baik dari masa muda kita ini untuk belajar banyak hal..

Ada yang selalu mengingatkan kita, bahwa belajar ilmu sains atau sosial saja tidak akan cukup.. Unggah-ungguhatau akhlaq itu sangat penting; kepada guru-guru, kakak kelas, teman-teman kita seangkatan, dan adik-adik kita nanti. Bukankah banyak yang berilmu sampai gelarnya berjejer tapi malah merugikan senegeri karena korupsinya triliunan?

Ada yang selalu mengingatkan kita, bahwa belajar ilmu sains atau sosial saja tidak akan cukup.. Tapi juga harus diiringi dengan latihan mengaplikasikannya, dengan belajar mendengar orang lain, berkomunikasi, dan melayani sesama. Lewat organisasi, lewat amanah-amanah kita. Bukankah banyak yang berilmu tapi enggan berbagi dengan orang lain? Bukankah banyak yang berilmu tapi gagap ketika berhadapan dengan masalah riil di sekitar?

Dan untuk bisa sukses menjalankan banyak peran itu, ada yang senantiasa mencontohkan kita bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik, mengatur prioritas, menjalani tiap pekerjaan dengan efektif dan efisien.
Maka saksikanlah, di sekolah ini, mereka adalah para kakak kelas yang berusaha menjadi teladan. Yang juga sudah membuktikan, bahwa langkah-langkah penuh kesadaran dan tanggung jawab ini bisa menyusun cerita yang tidak kalah gokilnya.Bahkan, cerita gokil mereka adalah cerita yang tetap akan berlanjut sampai kapanpun karena kesuksesan-kesuksesan yang terus menanti mereka di depan!

Kurasa, kalau kami sering menyebut-nyebut program-program atau hal-hal yang membudaya di sekolah kami ini, bukan karena kami berbangga diri, tapi semata karena kami tak ingin berhenti belajar tentang bagaimana kebaikan-kebaikan itu diwariskan, apa-apa yang dapat mendukungnya tumbuh subur. Betapa justru kami merasa kecil dibandingkan kakak-kakak yang bertahun-tahun lalu memulai program atau budaya baik itu pertama kali. Kami juga membayangkan, bagaimana bila suatu ketika program itu terpaksa diberhentikan oleh yang lebih berwenang, entah karena mereka belum kami buat mengerti dan sehati, atau karena zaman menuntut kami lebih banyak sehingga program itu pun berat memikulnya. Mampukah kami memulai kembali? Membudayakan sebuah kebaikan berbentuk lain, mungkin? Akan selalu adakah kakak yang menyapa adik-adiknya dengan ramah dan merangkulnya hangat?

Teladan adalah kunci untuk mewariskan.

Teladan, janganlah kau mati untuk mengucap “Selamat datang bintang!”

20140923_095210.jpg

Ditulis sejak akhir tahun 2014
Fikri Ahmad, Tokoh ‘Sekolah Langit Bumi’

Oleh: Zahrin Afina

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: