Sudahkah Engkau Menentukan?

Sekian lama telah kulewati waktu, tanpa kegiatan menulis  yang menemani perjalanan hidupku akhir-akhir ini. Sebagaimana kata seorang temanku, “maafkan aku, aku selalu terbawa baper saat menulis”, ya kira-kira begitu. Acapkali ada perasaan untuk menulis, baper itu datang dan. . . ketika kebaperan itu tertulis, bertambah baperlah yang terjadi. Sebelum engkau, kawanku, mendengar kebaperanku, maka simaklah petuah Ustadz Syamsuddin Arif,

“Kendati bukan satu-satunya jalan, menulis dapat mengejawantahkan eksistensi pelakunya. Dengan menulis orang sekaligus berekspresi, berkomunikasi – yang paling penting- meninggalkan jejak pikiran untuk masa yang tak terhingga. Tulisan tidak hanya merekam dan menyimpan. Ia juga mengajar dan memengaruhi. Mengajak dan membujuk. Bersuara dan berbicara. Bukankah saat membaca tulisan ini Anda sebenarnya tengah mendengarkan saya berkata-kata? Sebuah paradoks, memang.”

***

20140923_095210

Malam itu, aku bertemu dengan sahabat karib dari SMA 3 angkatan 2012, sekarang kuliah di kedokteran, dan beranama Nanda (ini bukan hari kebalikan di mana nama Adnan dieja dari belakang, dan dia mengaku sekolah di SMA 3,lalu berkuliah di kedokteran). Dahulu Nanda aktif di KMAP (Keluarga Muslim Alumni Padmanaba), dan sekarang aktif di dalam lembaga Sketsa (cek http://sketsa-yogyakarta.blogspot.co.id) , bertugas dalam mengembangkan mentoring minat bakat.

Setelah salam, sapa, dan mengobrol panjang melepas rindu, kutanyakan padanya (percakapan ini ditulis ulang dengan bumbu-bumbu sastra tanpa mengurangi maksud dan makna), “Apakah maksudnya minat bakat itu Nan? Apakah sama dengan menggambar, mewarnai, menulis, dan semacamnya?”

“Tidaklah begitu Nan. Minat itu tidak sekedar minat, keinginan semu tanpa tujuan yang jelas.”, Ia menjawab dengan nada santai, suara yang enak didengar, jelas dan lugas, “ Minat yang kumaksud ialah lebih mirip dengan tujuan hidup. Bisa diulur jauh sejauh hidup setelah mati, atau bisa ditarik sedekatnya dengan mengimbuhkan kata setelah “tujuan hidup”. Misal tujuan hidup SMA, tujan hidup Kuliah, tujuan Hidup kerja, dan sebagainya. Ia juga bisa ditanyakan seperti ini, “apasih yang kamu ingini, kamu minati dalam hidup ini?”, atau “Apa yang ingin kau gapai semasa berseragam putih abu-abu anak muda?”. Minat yang kumaksud membawa keseluruhan pribadi Nan, bukan hanya satu bagian yang bernama hobi. Menggambar, menulis, mewarnai, bukanlah minat yang kumaksud.”

“Oh begitu Nan, tapi selama ini, aku sedikit –bahasa gaul inteleknya- apriori dengan bahasan-bahasan minat bakat, yang ujung-ujungnya adalah life plan map. Tiap kali sudah kubuat, sedikit-sedikit kutinggalkan, karena berpindah haluan tujuan hidup, kuliah, dan sebagainya. Sehingga aku cukup memikirkan bangunan tujuan hidupku dalam pikiran, dan merevisinya tiap kal diperlukan. Apakah aku termasuk orang tak berminat bakat yang baik?”

“Nan, itu tidak mengapa. Asalkan minat yang kamu bangun untuk merevisi itu lebih baik, dan kamu siap untuk menjalaninya.  Maka dari itu Nan, menjelaskan minat yang baik itu satu hal, menuntun ke dalam minat yang baik itu hal lain, meyadarkan bakat atau modal yang kita punya sekarang ini hal lain lagi, lalu membuat tangga-tangga dari bakat ke minat tadi yang kita sebut dengan Life Map itu juga persoalan yang penting juga. Maka inilah yang disebut sebagai Mentoring Minat-Bakat, jika si adik punya minat yang ingin digapai, lalu dipandu untuk mengenali dirinya dari bakatnya, lalu tidak hanya dipandu untuk membuat Life Plan Map, tetapi sampai sang mentor itu menjadi “coach” atau pelatih. Dan ingat, pelatih dan trainer itu beda.”

“Apa beda coach dan trainer Nan? Bukankah sama?”

“Jelas beda, misal dalam sepak bola. Coach itu bisa saja tidak bisa bermain bola, tetapi ia paham dan mengerti jalan untuk menjadi pemaim bola handal. Sang Coach menilai kelebihan dan kekurangan pemain, jika seorang pemati masih buruk dalam member umpan, maka sang Coach menyuruh pemain untuk berlatih kepada trainer (biasanya mantan pemain bola handal) yang ahli dalam member umpan.”

***

Ah, baper. Jika minat kita masuk surga. . . maka seharusnya kita juga membuat life plan map, sebuah jalan untuk masuk surga. Jika perjalanan menuju surga perlu perjuangan (juga dalam menshalihkan pribadi tentunya), maka sebagaimana nasihat “Orang hanya boleh iri pada dua hal; pada orang berilmu dan mengajarkan, atau orang berharta dan menginfaqkannya di jalan Allah). Orang berilmu ialah menerangkan kebenaran agar ia istiqomah dijalan yang lurus, atau menjelaskan kesesatan agar terlepas dari kesesatan itu. Orang yang kaya raya dalam berdagang, atau masuk dalam lingkungan ekonomi politik agar harta itu tersebar adil dan digunakan untuk kebaikan.

Dari tipe orang itu, lantas dapat kita tahu profesi apa yang akan kita ambil. Sebagai ilmuankah, guru ngajikah, pedagangkah, politikus yang membela kepentingan umatkah, atau yang lainnya. Dari sana pun kita dapat memilih jurusan kuliah yang akan kita lalui. Juga skill-skill apa yang harus kita latih, aktivitas-aktivitas apa yang akan kita kerjakan. Amal-amal apa yang akan kita usahakan.

KSAI Al Uswah…. Kelompok Studi dan Amaliyah Islam Al Uswah. Kita dipertemukan kembali di sini, setelah 3 tahun lamanya belajar di SMA 1. Demi mengharap Wajah Allah,  sudahkah kita menentukan. . . akankah kita berkhidmat dalam ilmu, dalam harta, bahkan keduanya atau punya jalan lain? (tentu kita faham, tetap ada ilmu dien yang wajib dipelajari meski menjadi seorang pedagang atau apapun).

Hidup terlalu berat jika dilakukan sendiri. Dan di KSAI, kita tidak sendiri. Jika kita akan menjadi ilmuan, bukankah setiap cabang ilmu itu berkaitan dengan cabang ilmu yang lain? Dan bukankah di KSAI ini terlah terkumpul dengan berbagai macam jurusan? Jika saya kuliah di arsitektur, bukankah ia berkaitan dengan ekonomi, politik, budaya, sejarah, teknik sipil, teknik elektro, dan masih banyak lain? Hendaknya mari kita sering-sering berdiskusi, bertukar pikiran, dan menghasilkan karya bersama.

Jika kita akan berjuang sebagai pedagang, maka bersyarikat bukankah jalan yang menguntungkan? Beberapa kawan kita pun telah memulainya, contohnya Haidar berdagang pakaiannya dengan Nafe Wear-nya, Ayyasy berdagang merchandise dengan Rohis Shopnya, adik PUKAT kita Aan-Falakh telah berjualan bukung dengan Toko Buku BAHTERA-nya. Mungkin kita bisa mengusahakan suatu hari, KSAI Farm, KSAI Boutiq, KSAI Incubation Center, dan sebagainya.

Apapun minat bakat kita, marilah kita bersemangat sebagai Kakak, untuk membimbing adik-adik kita yang barangkali akan mendampingi kita berjuang dalam kehidupan yang keras ini. Bersemangat sebagai sahabat perjuangan yang berkhidmat dalam ilmu dan amal.

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: