Turunkan Harga Listrik

Secara sederhana, harga listrik di Indonesia sejatinya ditentukan oleh pola konsumsi masyarakatnya. Jika ingin listrik murah, maka taatilah himbauan pemerintah untuk mengurangi penggunaan listrik tujuh belas dua dua. Taatilah himbauan pemerintah untuk mengurangi penggunaan listrik pada pukul lima sore hingga pukul sepuluh malam. Sekian.
Hehe, bagi yang tertarik dan ingin mencari tahu alasannya, bisa menyimak lebih jauh tulisan saya. Terdapat tiga pokok bahasan dalam tulisan ini yaitu: (1) biaya pembangkitan listrik tidak sama tiap waktunya, (2) biaya yang dibayar konsumen adalah biaya rata-rata pembangkitan listrik, dan (3) biaya listrik Indonesia sekarang tidaklah tetap.

1. Biaya pembangkitan listrik tidak sama tiap waktunya
Dalam istilah kelistrikan, terdapat istilah kurva beban atau kurva pembebanan. Kurva ini menunjukkan pola konsumsi energi listrik suatu wilayah atau kelompok dalam kurun waktu tertentu. Dalam kurva beban harian Jawa-Bali, permintaan daya terbesar adalah pada pukul enam hingga delapan malam. Meskipun satuaan jual listrik adalah energi (kWh), penyediaan jasa listrik sejatinya dalam bentuk daya (kW). Oleh karena itu, tidak mungkin pembangkit listrik membangkitkan listrik pada dini hari dan dijual pada sore hari (kecuali dengan penyimpanan, dan ini diluar bahasan kali ini). Ketika permintaan daya rendah, maka pembangkit yang bekerja adalah pembangkit yang murah saja (seperti batu bara dan panas bumi). Adapun pada beban puncak, maka pembangkit yang mahal juga harus ikut andil (seperti diesel dan gas). Alasan mengapa tidak semua pembangkit adalah batu bara dan panas bumi saja adalah karena adanya batasan kecepatan starting, durasi menyala, dan durasi padam. Secara sederhananya, dibutuhkan pembangkit berbiaya mahal untuk membantu pemenuhan daya yang bersifat sesaat namun tinggi.
(Kurva beban harian Jawa-Bali pada 2 Maret 2011 terlampir)

2. Biaya yang dibayar konsumen adalah biaya rata-rata listrik
Meskipun harga listrik bisa dibuat dalam fungsi waktu, Indonesia lebih memilih untuk membuat harga rerata untuk pelanggan rumah tangga. Hal ini demi kemudahan sisi administrasi dan teknologi metering di rumah pelanggan. Oleh karena itu, total biaya yang diperlukan PLN untuk membangkitkan energi akan diakumulasi dan dicari reratanya. Nilai rerata inilah yang akan dijadikan patokan penentuan biaya listrik.

3. Biaya listrik Indonesia sekarang tidaklah tetap
Sudah kita rasakan bahwa harga listrik di Indonesia kian naik. Hal ini karena faktor inflasi dan naiknya bahan bakar. Menurut rekan penulis yang membuat rumusan harga listrik, harga listrik akan naik dan turun sesuai dengan biaya yang dikeluarkan PLN untuk pembangkitan energi. Ketika biaya pembelian bahan bakar turun, maka biaya listrik juga akan turun. Perlu diketahui bahwa biaya pembangkitan listrik menggunakan batu bara berkisar 600 rupiah per kWh dan akan naik menjadi 1600 rupiah per kWh untuk bahan bakar minyak (penulis agak lupa, per kWh atau per apa, juga lupa harga tepatnya, intinya selisih jauh). Adapun listrik yang sekarang dibayar pelanggan rumah tangga berkisar pada 1300 rupiah per kWh (terhitung bulan Maret 2017).
Dengan menurunkan konsumsi daya listrik pada pukul lima sore hingga sepuluh malam, kita telah membantu mengurangi biaya pebangkitan. Katakanlah dari sisi PLN, satu kWh yang sama akan berbeda harganya jika dibangkitkan pada dini hari dibandingkan pada saat beban puncak. Dengan demikian, rerata biaya pembangkitan akan menurun dan rerata biaya yang dibayar konsumen juga akan turun. Terlebih lagi apabila melihat arah pengiriman daya, maka listrik di Jawa Barat sejatinya lebih mahal dari listrik di Jawa Timur (baca lebih lanjut tentang pengiriman daya listrik apabila tertarik). Oleh karena itu, akan lebih terasa lagi apabila Jawa Barat mulai memperbaiki pola konsumsi dayanya.

Sebagai masyarakat kecil, yang bisa kita lakukan adalah memilih waktu penggunaan oven, mesin cuci, pompa air, setrika, dan sebagainya. Usahakan untuk memindah waktu pemakaian elektronik tersebut. Adapun apabila sebagai pengelola perbisnisan malam, gunakan lampu hemat energi dan lampu otomatis. Selain itu, atur juga peletakan cermin, rumahan lampu, dan cat tembok di tempat anda untuk menurunkan konsumsi daya dari lampu. Nah, yuk mulai menjadi bagian dari solusi listrik murah dan jangan mengeluh mengenai listrik mahal. Apakah kamu bagian dari masalah, atau bagian dari solusi?

“Semua orang pastilah menghendaki perubahan ke arah yang baik, tetapi maukah engkau berubah menjadi lebih baik?”

Muhammad Yasirroni
30 Maret 2017

Bagaimana Menurutmu?

%d bloggers like this: